Rumah ini terasa
sangat berbeda. Kini seolah lebih hangat. Ruangannya seakan lebih luas dan
terang. Padahal kutahu bahwa rumah ini hanya terdiri dari dua kamar, satu
dapur, dan satu kamar mandi, tanpa ruang tamu. Saat ini, aku tinggal di rumah
seorang gadis yang menolongku tiga hari yang lalu. Rupanya gadis itulah yang
membeli rumah ini, rumah Pamanku. Pamanku menjual rumah ini, yang kutahu,
karena ingin mencari tempat tinggal di kota lain.
Gadis yang menolong
Pamanku dulu, rupanya sekarang tengah menolongku juga. Mungkin gadis ini adalah
dewi penyelamat keluargaku. Gadis cantik itu bernama Ruifa Xiencha dan
orang-orang memanggilnya Rui. Namanya aneh, kupikir ia adalah keturunan Cina,
ternyata bukan. Nama keluarganya adalah gabungan dari nama dua orang pengasuhnya
yaitu Xien, orang Cina, dan Charlie, orang Inggris. Rui mengalami amnesia,
namun masih bisa mengingat namanya sendiri, Ruifa. Menurutnya, bisa mengingat
namanya saja sudah merupakan anugerah.
Entah bagaimana Rui
bisa menembus pertahanan rumahku yang kuat. Memang, pada saat itu rumahku
sedang diterobos oleh seorang penjahat. Namun, di tengah kekacauan seperti itu
tidak mungkin seorang gadis seperti Rui sanggup melewati dan melumpuhkan seluruh prajurit ayah untuk
menolongku. Walaupun sang penjahat juga mampu membantai pengawal ayah
sendirian. Setelah kutanya kemarin, barulah aku tahu kalau ia adalah mantan
pengawal. Kata Rui, ia pernah menjadi calon ksatria meski akhirnya tidak pernah
menjadi ksatria sungguhan karena Xien dan Charlie tidak mengizinkannya.
Rui adalah gadis yang
manis dan cantik. Kira-kira berumur di awal dua puluhan, mungkin dua atau tiga
tahun lebih muda dariku. Rambutnya panjang sepinggang berwarna cokelat karamel.
Rambut yang lurus itu selalu diikat ekor kuda, rapi dan tertata. Rui memiliki iris
berwarna hijau serupa lumut. Tampak dalam dan tajam. Setiap kali keluar rumah,
di pinggang kirinya selalu terselip sebilah pedang dan sebilah samurai. Selama
tiga hari ini kuperhatikan, Rui tidak pernah memakai gaun bahkan sekedar rok
sekalipun. Penampilannya selalu seperti laki-laki. Pantas saja, dengan mudah ia
meminjamiku pakaian.
Berada di rumah ini
terasa seperti nostalgia bagiku. Rumah yang selalu sembunyi-sembunyi kudatangi
untuk berlatih pedang bersama paman. Dulu aku berlatih sungguh-sungguh bukan
untuk berkelahi namun agar aku bisa melindungi keluargaku. Namun ternyata, aku
bahkan tidak bisa melakukan apa-apa ketika keluargaku dibantai hanya oleh
seorang penjahat. Pengawal yang sempat melindungiku memintaku untuk
berhati-hati pada orang yang memiliki bekas luka di bahu kirinya. Orang itulah
yang sedang membantai keluargaku saat itu. Namun, meski aku tahu ciri-cirinya
aku tidak memiliki kemampuan untuk menghabisinya. Ah…aku merasa aman berada di
dalam rumah ini.
“Tuan Evonclaft?
Sedang apa Anda duduk di sana? Apakah Anda lapar?” suara merdu Rui membuyarkan
lamunanku.
“Panggil saja Gren
atau Ito, atau terserah saja. Asal jangan panggil aku dengan nama keluargaku,”
ucapku kesal. Aku tidak pernah suka dipanggil begitu.
“Baiklah, Tuan
Grenito. Aku akan membuatkan makanan, tapi aku ingin mandi dulu. Bisakah Anda
masuk ke dalam kamar sebentar?” suara Rui yang lembut memerintahku samar.
“Tentu. Kau tidak
perlu buru-buru, Nona Rui. Aku tidak terlalu lapar,” jawabku sambil memasuki
kamar.
Dengan sabar aku
menunggu Rui. Lima belas menit telah berlalu, kupikir Rui sudah mulai memasak
karena kudengar suara sendok beradu. Aku ingin membantu, aku merasa tidak enak
dilayani olehnya. Walaupun katanya rakyat biasa harus melayani keluarga
bangsawan, aku tetap merasa harus membantunya. Tidak peduli dengan penolakannya
nanti, aku membuka pintu dan melangkah keluar menuju dapur.
“Ah!” seru Rui
terkejut. Ternyata ia baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk saja.
“Ergh…maaf, aku tidak
bermaksud…” kata-kataku terhenti setelah melihat bekas luka di bahu kirinya.
“Anda tidak
seharusnya melihatku seperti ini,” suara Rui terdengar tajam. Ia bergegas
menuju kamarnya.
“Tunggu! Luka itu…”
aku menghentikan langkah Rui.
“Biarkan aku
berpakaian dulu. Aku akan menjelaskannya,” ucapannya sangat tegas dan
mengerikan ketika Rui melepaskan genggaman tanganku.
Lama sekali waktu
berjalan bagiku. Menunggu Rui mengenakan pakaian saja membuat keringatku
mengalir deras, tegang menanti penjelasannya. Beberapa menit kemudian, Rui keluar
dengan memakai celana hitam selutut dan kaus tanpa lengan sehingga luka-luka di
tubuhnya terlihat, terutama bekas luka di bahunya. Ia berjalan melewatiku lalu
membuat dua cangkir teh hijau. Setelah itu, Rui meletakkan satu cangkir di
depanku, kemudian ia mengambil tempat untuk duduk berhadapan denganku.
“Apa yang ingin kau
ketahui dariku, Gren?” tanya Rui tak lagi formal.
“Katakan kalau kau
bukan pembantai keluargaku,” ujarku pelan namun garang.
“Sayang sekali, aku
tidak bisa mengatakan itu,” senyumnya kecut padaku, ”kau pernah dengar mengenai
Sordanite?” lanjutnya.
“Sordanite?” tanyaku
bingung.
“Sordanite adalah
nama keluargaku. Sebuah keluarga bangsawan ksatria yang tinggal di utara pulau
ini. Aku adalah putri terakhir keluarga Sordanite,” jawab Rui santai.
“Eh? Bukannya kau
amnesia?” aku semakin bingung. Aku ingat pernah mendengar nama itu.
“Amnesia? Itu
hanyalah tipuan agar aku bisa masuk ke kota ini,” Rui tertawa kecil, ”Boleh aku
bercerita padamu?” tanya Rui agak memaksa. Aku hanya mengangguk saja.
“Aku lahir sebagai
anak terakhir di keluarga Sordanite. Semua kakakku adalah laki-laki, dua orang
laki-laki. Karena aku perempuan, ibu mengajariku memasak, menjahit, berdandan,
merangkai bunga, dan juga berdansa. Namun, ayah tidak melihat perbedaan antara
aku dan kakak. Bagi beliau, kami semua adalah ksatria muda yang perlu diasah
kemampuannya. Akhirnya, aku menjadi satu-satunya ksatria yang bisa berdandan,”
Rui terkekeh mendengar ceritanya sendiri.
“Ksatria Sordanite?”
aku teringat sesuatu mengenai perselisihan keluargaku dengan para ksatria.
“Tak hanya berlatih
pedang, aku juga belajar menggunakan samurai,” Rui melanjutkan ceritanya seolah
tidak melihat rautku yang terkejut.
“Aku sangat senang
menjadi ksatria. Aku bangga menyandang gelar sebagai salah satu ksatria
Sordanite,” sambung Rui setelah menghirup tehnya. Aku tidak berani menyela
ceritanya.
“Namun, ketika kami
sedang berpesta untuk merayakan pertunangan kakak tertuaku, tiba-tiba terjadi
sebuah skema penyerangan. Kebahagiaan yang kurasa saat itu, sekejap berubah
menjadi dendam yang dalam. Keluargaku lenyap dibantai oleh prajurit-prajurit
pribadi keluarga Evonclaft,” Rui mengakhiri ceritanya dengan memandangku
hangat, namun membuatku gemetar.
“Ke-keluargaku?” aku
merasa sangat ketakutan duduk di hadapan seorang pembunuh.
“Ya. Dan kau tahu
siapa yang telah memberikan luka ini padaku?” tanya Rui lembut sambil memandang
bekas luka pada bahunya.
“Ti-ti-tidak,”
jawabku terbata-bata.
“Tuan Grenado menebas
bahu kiriku tiga tahun yang lalu. Dan kini meninggalkan bekas luka sepanjang tiga puluh senti hingga ke dada,” jelas Rui.
“Adikku? Adikku yang
menebasmu? Tidak mungkin,” pikiranku kacau.
“Kau tidak sadar
bahwa adikmu juga seorang pembunuh, sama sepertiku. Kau tidak takut padanya,
tetapi kau malah takut pada gadis di hadapanmu,” Rui mencibirku.
“Lalu…mengapa kau
tidak membunuhku juga?” tanyaku gugup.
“Karena kau sama
sekali tidak mengetahui tragedi itu,” jawab Rui cepat.
“Bagaimana kau tahu?”
aku memang benar-benar baru mendengar hal itu.
“Kau itu mirip dengan
Pamanmu. Pandai bermain pedang tetapi tidak suka kekerasan. Saat tragedi itu
terjadi, kau bahkan sedang belajar ke luar negeri bersama Pamanmu. Sebenarnya,
aku bukan tidak berniat membunuhmu juga,” Rui menggantung keterangannya.
“Lalu?” aku meminta
penjelasan lebih lanjut.
“Besok adalah hari
ulang tahun kita. Ya, kita lahir di tanggal yang sama. Rencananya, besok aku
akan berhenti menjadi seorang ksatria. Jika hari ini kau tidak menangkap basah
ksatria terakhir ini, mungkin aku akan sukses membunuhmu. Membunuh karaktermu
yang baik hati dan mengubahmu menjadi pendendam yang kejam,” jelasnya tegas.
“Berhenti menjadi
seorang ksatria? Kau akan bunuh diri?” aku marah dan menggebrak meja,
“Kau marah karena aku
bunuh diri?” Rui tertawa, “tentu saja aku harus mati setelah gagal membalas
dendam,” jawabnya tajam.
“Tidak! Itu tidak
perlu,” rasanya aku ingin menangis.
“Kau terlalu lemah!
Maafkan aku, aku telah membantai seluruh keluargamu,” ujar Rui lirih.
“Kau bahkan terlalu
baik sebagai ksatria pembantai. Maafkan keluargaku yang telah menghancurkan
kebahagiaanmu,” aku berjalan menghampiri dan memeluknya.
“Aku tidak pantas
diperlakukan seperti ini,” Rui terisak mengucapkannya, “Aku layak kau habisi,”
lanjutnya dalam tangis.
“Jika itu memang
keinginanmu. Baiklah. Aku akan menghabisimu di sini,” tegasku. Rui seketika
mendongak menatapku, aku tersenyum membalas tatapannya.
“Hari ini aku telah
membunuh Ruifa Sordanite. Dan yang sekarang berdiri di hadapanku adalah Ruifa
Xiencha, seorang ksatria terakhir yang baik hati,” ucapku keras-keras. Kemudian
kami tertawa bersama dalam air mata haru. Sejenak kudengar Rui berkata lirih.
“Terima kasih. Aku
akan menjadi ksatria terakhir yang selalu melindungimu.”
Setelah itu, kulihat
senyum Rui yang manis. Senyum tulusnya yang tidak akan pernah kulupakan.