Label

Sabtu, 30 Juni 2012

Last Knight


Rumah ini terasa sangat berbeda. Kini seolah lebih hangat. Ruangannya seakan lebih luas dan terang. Padahal kutahu bahwa rumah ini hanya terdiri dari dua kamar, satu dapur, dan satu kamar mandi, tanpa ruang tamu. Saat ini, aku tinggal di rumah seorang gadis yang menolongku tiga hari yang lalu. Rupanya gadis itulah yang membeli rumah ini, rumah Pamanku. Pamanku menjual rumah ini, yang kutahu, karena ingin mencari tempat tinggal di kota lain.
Gadis yang menolong Pamanku dulu, rupanya sekarang tengah menolongku juga. Mungkin gadis ini adalah dewi penyelamat keluargaku. Gadis cantik itu bernama Ruifa Xiencha dan orang-orang memanggilnya Rui. Namanya aneh, kupikir ia adalah keturunan Cina, ternyata bukan. Nama keluarganya adalah gabungan dari nama dua orang pengasuhnya yaitu Xien, orang Cina, dan Charlie, orang Inggris. Rui mengalami amnesia, namun masih bisa mengingat namanya sendiri, Ruifa. Menurutnya, bisa mengingat namanya saja sudah merupakan anugerah.
Entah bagaimana Rui bisa menembus pertahanan rumahku yang kuat. Memang, pada saat itu rumahku sedang diterobos oleh seorang penjahat. Namun, di tengah kekacauan seperti itu tidak mungkin seorang gadis seperti Rui sanggup melewati  dan melumpuhkan seluruh prajurit ayah untuk menolongku. Walaupun sang penjahat juga mampu membantai pengawal ayah sendirian. Setelah kutanya kemarin, barulah aku tahu kalau ia adalah mantan pengawal. Kata Rui, ia pernah menjadi calon ksatria meski akhirnya tidak pernah menjadi ksatria sungguhan karena Xien dan Charlie tidak mengizinkannya.
Rui adalah gadis yang manis dan cantik. Kira-kira berumur di awal dua puluhan, mungkin dua atau tiga tahun lebih muda dariku. Rambutnya panjang sepinggang berwarna cokelat karamel. Rambut yang lurus itu selalu diikat ekor kuda, rapi dan tertata. Rui memiliki iris berwarna hijau serupa lumut. Tampak dalam dan tajam. Setiap kali keluar rumah, di pinggang kirinya selalu terselip sebilah pedang dan sebilah samurai. Selama tiga hari ini kuperhatikan, Rui tidak pernah memakai gaun bahkan sekedar rok sekalipun. Penampilannya selalu seperti laki-laki. Pantas saja, dengan mudah ia meminjamiku pakaian.
Berada di rumah ini terasa seperti nostalgia bagiku. Rumah yang selalu sembunyi-sembunyi kudatangi untuk berlatih pedang bersama paman. Dulu aku berlatih sungguh-sungguh bukan untuk berkelahi namun agar aku bisa melindungi keluargaku. Namun ternyata, aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa ketika keluargaku dibantai hanya oleh seorang penjahat. Pengawal yang sempat melindungiku memintaku untuk berhati-hati pada orang yang memiliki bekas luka di bahu kirinya. Orang itulah yang sedang membantai keluargaku saat itu. Namun, meski aku tahu ciri-cirinya aku tidak memiliki kemampuan untuk menghabisinya. Ah…aku merasa aman berada di dalam rumah ini.
“Tuan Evonclaft? Sedang apa Anda duduk di sana? Apakah Anda lapar?” suara merdu Rui membuyarkan lamunanku.
“Panggil saja Gren atau Ito, atau terserah saja. Asal jangan panggil aku dengan nama keluargaku,” ucapku kesal. Aku tidak pernah suka dipanggil begitu.
“Baiklah, Tuan Grenito. Aku akan membuatkan makanan, tapi aku ingin mandi dulu. Bisakah Anda masuk ke dalam kamar sebentar?” suara Rui yang lembut memerintahku samar.
“Tentu. Kau tidak perlu buru-buru, Nona Rui. Aku tidak terlalu lapar,” jawabku sambil memasuki kamar.
Dengan sabar aku menunggu Rui. Lima belas menit telah berlalu, kupikir Rui sudah mulai memasak karena kudengar suara sendok beradu. Aku ingin membantu, aku merasa tidak enak dilayani olehnya. Walaupun katanya rakyat biasa harus melayani keluarga bangsawan, aku tetap merasa harus membantunya. Tidak peduli dengan penolakannya nanti, aku membuka pintu dan melangkah keluar menuju dapur.
“Ah!” seru Rui terkejut. Ternyata ia baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk saja.
“Ergh…maaf, aku tidak bermaksud…” kata-kataku terhenti setelah melihat bekas luka di bahu kirinya.
“Anda tidak seharusnya melihatku seperti ini,” suara Rui terdengar tajam. Ia bergegas menuju kamarnya.
“Tunggu! Luka itu…” aku menghentikan langkah Rui.
“Biarkan aku berpakaian dulu. Aku akan menjelaskannya,” ucapannya sangat tegas dan mengerikan ketika Rui melepaskan genggaman tanganku.
Lama sekali waktu berjalan bagiku. Menunggu Rui mengenakan pakaian saja membuat keringatku mengalir deras, tegang menanti penjelasannya. Beberapa menit kemudian, Rui keluar dengan memakai celana hitam selutut dan kaus tanpa lengan sehingga luka-luka di tubuhnya terlihat, terutama bekas luka di bahunya. Ia berjalan melewatiku lalu membuat dua cangkir teh hijau. Setelah itu, Rui meletakkan satu cangkir di depanku, kemudian ia mengambil tempat untuk duduk berhadapan denganku.
“Apa yang ingin kau ketahui dariku, Gren?” tanya Rui tak lagi formal.
“Katakan kalau kau bukan pembantai keluargaku,” ujarku pelan namun garang.
“Sayang sekali, aku tidak bisa mengatakan itu,” senyumnya kecut padaku, ”kau pernah dengar mengenai Sordanite?” lanjutnya.
“Sordanite?” tanyaku bingung.
“Sordanite adalah nama keluargaku. Sebuah keluarga bangsawan ksatria yang tinggal di utara pulau ini. Aku adalah putri terakhir keluarga Sordanite,” jawab Rui santai.
“Eh? Bukannya kau amnesia?” aku semakin bingung. Aku ingat pernah mendengar nama itu.
“Amnesia? Itu hanyalah tipuan agar aku bisa masuk ke kota ini,” Rui tertawa kecil, ”Boleh aku bercerita padamu?” tanya Rui agak memaksa. Aku hanya mengangguk saja.
“Aku lahir sebagai anak terakhir di keluarga Sordanite. Semua kakakku adalah laki-laki, dua orang laki-laki. Karena aku perempuan, ibu mengajariku memasak, menjahit, berdandan, merangkai bunga, dan juga berdansa. Namun, ayah tidak melihat perbedaan antara aku dan kakak. Bagi beliau, kami semua adalah ksatria muda yang perlu diasah kemampuannya. Akhirnya, aku menjadi satu-satunya ksatria yang bisa berdandan,” Rui terkekeh mendengar ceritanya sendiri.
“Ksatria Sordanite?” aku teringat sesuatu mengenai perselisihan keluargaku dengan para ksatria.
“Tak hanya berlatih pedang, aku juga belajar menggunakan samurai,” Rui melanjutkan ceritanya seolah tidak melihat rautku yang terkejut.
“Aku sangat senang menjadi ksatria. Aku bangga menyandang gelar sebagai salah satu ksatria Sordanite,” sambung Rui setelah menghirup tehnya. Aku tidak berani menyela ceritanya.
“Namun, ketika kami sedang berpesta untuk merayakan pertunangan kakak tertuaku, tiba-tiba terjadi sebuah skema penyerangan. Kebahagiaan yang kurasa saat itu, sekejap berubah menjadi dendam yang dalam. Keluargaku lenyap dibantai oleh prajurit-prajurit pribadi keluarga Evonclaft,” Rui mengakhiri ceritanya dengan memandangku hangat, namun membuatku gemetar.
“Ke-keluargaku?” aku merasa sangat ketakutan duduk di hadapan seorang pembunuh.
“Ya. Dan kau tahu siapa yang telah memberikan luka ini padaku?” tanya Rui lembut sambil memandang bekas luka pada bahunya.
“Ti-ti-tidak,” jawabku terbata-bata.
“Tuan Grenado menebas bahu kiriku tiga tahun yang lalu. Dan kini meninggalkan bekas luka sepanjang tiga puluh senti hingga ke dada,” jelas Rui.
“Adikku? Adikku yang menebasmu? Tidak mungkin,” pikiranku kacau.
“Kau tidak sadar bahwa adikmu juga seorang pembunuh, sama sepertiku. Kau tidak takut padanya, tetapi kau malah takut pada gadis di hadapanmu,” Rui mencibirku.
“Lalu…mengapa kau tidak membunuhku juga?” tanyaku gugup.
“Karena kau sama sekali tidak mengetahui tragedi itu,” jawab Rui cepat.
“Bagaimana kau tahu?” aku memang benar-benar baru mendengar hal itu.
“Kau itu mirip dengan Pamanmu. Pandai bermain pedang tetapi tidak suka kekerasan. Saat tragedi itu terjadi, kau bahkan sedang belajar ke luar negeri bersama Pamanmu. Sebenarnya, aku bukan tidak berniat membunuhmu juga,” Rui menggantung keterangannya.
“Lalu?” aku meminta penjelasan lebih lanjut.
“Besok adalah hari ulang tahun kita. Ya, kita lahir di tanggal yang sama. Rencananya, besok aku akan berhenti menjadi seorang ksatria. Jika hari ini kau tidak menangkap basah ksatria terakhir ini, mungkin aku akan sukses membunuhmu. Membunuh karaktermu yang baik hati dan mengubahmu menjadi pendendam yang kejam,” jelasnya tegas.
“Berhenti menjadi seorang ksatria? Kau akan bunuh diri?” aku marah dan menggebrak meja,
“Kau marah karena aku bunuh diri?” Rui tertawa, “tentu saja aku harus mati setelah gagal membalas dendam,” jawabnya tajam.
“Tidak! Itu tidak perlu,” rasanya aku ingin menangis.
“Kau terlalu lemah! Maafkan aku, aku telah membantai seluruh keluargamu,” ujar Rui lirih.
“Kau bahkan terlalu baik sebagai ksatria pembantai. Maafkan keluargaku yang telah menghancurkan kebahagiaanmu,” aku berjalan menghampiri dan memeluknya.
“Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini,” Rui terisak mengucapkannya, “Aku layak kau habisi,” lanjutnya dalam tangis.
“Jika itu memang keinginanmu. Baiklah. Aku akan menghabisimu di sini,” tegasku. Rui seketika mendongak menatapku, aku tersenyum membalas tatapannya.
“Hari ini aku telah membunuh Ruifa Sordanite. Dan yang sekarang berdiri di hadapanku adalah Ruifa Xiencha, seorang ksatria terakhir yang baik hati,” ucapku keras-keras. Kemudian kami tertawa bersama dalam air mata haru. Sejenak kudengar Rui berkata lirih.
“Terima kasih. Aku akan menjadi ksatria terakhir yang selalu melindungimu.”
Setelah itu, kulihat senyum Rui yang manis. Senyum tulusnya yang tidak akan pernah kulupakan.

Selasa, 29 Mei 2012

My Soul


Kecantikannya membuatku terpesona. Wajah damai menghipnotis jiwa kelabu yang terpuruk. Senyum magis membunuh setiap kebencian yang terlintas. Sikap lembut mengikis pedang penuh darah yang terhujam. Gadis istimewa dengan tinggi semampai. Rambut cokelat yang lurus jatuh lembut hingga pinggang. Mata perak dengan hidung mancung dan bibir mungil menghiasi wajah yang oval. Ku nikmati dan ku kagumi sosok itu pada cermin di hadapanku.
Aku bukan sedang menatap diriku sendiri di cermin. Aku sedang mengamati jiwa lain yang tersemayamkan dalam tubuhku. Jiwa yang selama ini menyokong roh dan ragaku, yang menjagaku tetap hidup. Tak pernah ku bayangkan bila diriku tak terpilih olehnya. Mungkin saat itu aku tidak akan mampu bertahan. Atas semua pertolongannya aku bisa menatap sosoknya jauh dalam cermin seperti ini.
Perang besar yang memakan jutaan jiwa itu juga telah melukai jiwaku. Memang bukan nyawa yang menjadi korban. Tapi manusia tanpa jiwa tak memiliki arti. Dan perang itu memang bukan juga perang yang terjadi di dunia nyata. Melainkan perang yang diikuti oleh para dewa dan iblis. Perang pemusnahan manusia oleh para iblis. Perang yang tidak melibatkan manusia tetapi berimbas pada kehancuran jiwa manusia. Namun aku yang memiliki kutukan, yang sering disebut dengan sixth sense, malah terlibat langsung dalam pertempuran.
Aku dan beberapa saudaraku terpilih menjadi manusia yang terwarisi oleh kemampuan ‘melihat’ dunia dalam berbagai dimensi ruang dan waktu. Kami memang tidak memiliki kemampuan untuk mengutak-atik dimensi-dimensi itu. Namun, melihat sesuatu yang tidak layak dilihat adalah sebuah siksaan. Apalagi bila kami tidak bisa mengendalikannya, kemampuan itu akan merusak jiwa kami. Oleh karena itu, saat kami telah teridentifikasi memliki kemampuan itu, kami dilatih untuk mengendalikan penglihatan.
Aku tidak mengerti, mengapa semua ketidakberuntungan jatuh pada keturunan seperti diriku. Aku memegang rekor sebagai pewaris kutukan terlemah yang pernah ada. Mendapat gelar seperti itu sesungguhnya aku sangat bahagia. Mengapa? Tentu saja dengan begitu aku tidak perlu mengikuti pelatihan pengendalian. Karena sesungguhnya latihan itu membutuhkan korban jiwa. Korban itu bisa saja jiwamu sendiri atau orang lain yang memiliki ikatan tertentu dengan jiwamu.
Kemampuan kami ini, kusebut sebagai kutukan bukan tanpa sebab. Aku memang bisa menggunakannya, namun aku tahu resiko apa yang akan terjadi pada semua keturunan bahkan pada nonpewaris sekali pun. Semua orang yang memiliki hubungan darah dengan pewaris akan menjadi korban untuk mengendalikan kemampuan itu. Dalam pelatihan, para pewaris akan diuji  ketahanan jiwanya dengan memilih korban pertama yang akan menjadi pengendali.
Keturunan nonpewaris tidak mampu menerima informasi dan penglihatan dari berbagai dimensi dunia. Namun, seorang pewaris dapat menerima semua informasi tanpa mengenal waktu sehingga jiwanya akan semakin melemah. Dengan adanya korban yang memiliki hubungan darah, para pewaris bisa menutup penglihatannya menggunakan jiwa dari korban tanpa terjadi penolakan jiwa oleh pewaris. Oleh karena itu, pelatihan sejatinya bukan untuk mengendalikan melainkan untuk mendapatkan jiwa pengendali.
Pada akhirnya, melalui penolakan yang terus terlontar, aku berhasil mengundurkan diri dari pelatihan. Namun ternyata aku terdeteksi sebagai pewaris utama wanita yang memiliki kekuatan kedua terbesar sehingga aku dipaksa memilih seseorang untuk menjadi pengendali kemampuanku. Sungguh aku tidak bisa memilih satu jiwa pun yang akan menjadi korban. Dan aku sanggup mengatakan bahwa tak ada cukup jiwa yang mampu mengendalikan kemampuanku, dengan bumbu dusta.
Terus dan terus melarikan diri adalah kemampuan baruku sekarang. Meskipun begitu aku tetap tidak bisa mengelak akan peranku dalam peperangan itu. Aku adalah penentu berakhirnya pemusnahan itu. Sebagai pewaris utama wanita, ternyata aku hanya bisa melihat dimensi waktu yang berbeda. Sedangkan pewaris utama pria, bisa melihat dimensi ruang dan waktu yang berbeda secara bersamaan. Karena penglihatan waktuku lebih kuat, aku diincar kedua belah pihak yang bertempur, baik para dewa maupun para iblis. Mereka semua memiliki pertanyaan yang sama. Kapan perang ini akan berakhir dan siapa pemenangnya.
Di tengah incaran para dewa yang bertindak seperti iblis dan para iblis yang sudah tak layak disebut sekedar iblis, aku ditemukan oleh sosok jiwa yang mempesona. Ia memiliki rambut cokelat yang panjang dan lurus seperti milikku. Tatapannya teduh dan sejuk bagai beringin di penghujung padang pasir. Mata peraknya dingin dan sebening air hulu. Sosok jiwa itu memiliki tanduk dan ekor iblis, serta sayap dan tiara dewa. Yang ku tahu sosok seperti itu adalah penyeimbang dunia, sang Fortune. Dan ia telah memilihku sebagai pendamping jiwanya. Ia telah menghidupkan kembali jiwaku yang terkoyak. Memberikan akhir bahagia pada ujung peperangan yang tak dapat terlihat.
Dear, My Soul

Jumat, 04 Mei 2012

Pure Fire Cat


Hembusan api biru yang kencang bertiup. Namun, lelaki misterius itu tak bergeming dari tempatnya berdiri. Wajahnya yang manis tampak santai meski ujung rambut dan pakaiannya terbakar. Senyum tipis terukir sekilas dari bibirnya. Ia bahkan tidak berdiri tegak atau gagah. Seolah ia hanya orang yang sekedar lewat dan berhenti di hadapanku.
|~~~~|~~~~|~~~~|
Hujan turun sangat lebat, walau tak ada petir yang tersambar namun gemuruh terdengar sangat keras. Air menetes-netes cukup deras dari rambut ikalnya yang terpilin. Baju yang basah kuyup menempel lekat pada tubuhnya. Giginya tampak bergemeletuk menggigil. Ketukan yang pelan dan cepat bergulir di telingaku.
“Kucingku basah,” ucapku padanya seraya tertawa geli.
“Kakak, aku sudah tidak tahan. Tolonglah…” pintanya.
“Mundur sedikit. Nanti rumahku basah,” perintahku masih tertawa.
“Cepatlah, Kakak. Dingin sekali…” matanya mulai ikut hujan.
“Baiklah, baiklah,” aku tidak tahan melihatnya menggigil meski ia sangat lucu saat basah.
Dengan satu sentuhan ringan, aku telah mengeringkan seluruh tubuhnya. Dan matanya yang hujan telah bersinar lagi. Suara gemuruh badai mendadak terhambur di hadapan kami. Ia yang terkejut segera melompat masuk dan menutup pintu rumahku yang rapuh dengan keras. Ia tersenyum konyol melihatku yang telah melempar aura membunuh di sampingnya.
Ia memelukku mencari perhatian agar perbuatannya terhadap pintuku dimaafkan. Sementara aku yang masih kesal terus mengutuknya pelan sambil membuatkan makan malam. Kekuatan dan kenakalannya yang luar biasa itu sering membuatku terbakar. Sebagai seorang gadis remaja yang labil aku tidak bisa menerima segala sesuatu yang mengganggu kehidupanku. Namun, entah bagaimana bisa menjadi suatu pengecualian untuknya.
|~~~~|
“Kakak, kau baik-baik saja?”
“Eng? Iya, aku hanya sedikit pusing.”
“Kalau begitu istirahat saja. Aku akan pergi sebentar dan akan kusempatkan membeli obat untukmu.”
“Yah, terima kasih. Hati-hati ya…”
Awan kelabu menggelayuti matanya yang indah. Ia mencemaskan aku yang memang lemah ini. Entah mengapa aku menyukai gadis kecil itu. Rambutnya biru gelap berpotongan laki-laki. Meski begitu, wajahnya sangat manis dan lucu. Tak pernah bisa aku menolak keinginannya. Ia mengingatkan aku pada adikku yang sudah tiada. Ah… Aku memang sudah tidak punya keluarga lagi.
Sudah dua tahun aku melalui kehidupan ini sendirian. Tidak lagi setelah bertemu dengannya, itu sudah pasti. Seluruh anggota keluargaku tewas dibantai. Semua dipenggal satu per satu. Dan aku tahu semua itu salahku. Ya, salahku yang terhasut oleh ambisi seorang ilmuan gila. Betapa bodohnya aku saat itu. Aku tunduk dan patuh pada ilmuan itu karena rayuan mautnya. Aku dijanjikan memiliki kemampuan dan kekuatan khusus.
Suatu percobaan illegal dilakukan oleh Pamanku, sang ilmuan gila. Paman yang tahu bahwa aku tergila-gila dengan angin menawariku menjadi objek percobaannya yang pertama. Tak pernah ku sangka ia berhasil. Aku menjadi gadis kecil yang bisa mengendalikan angin sesuka hati. Jangan pernah berpikir Pamanku adalah ilmuan yang ilmiah. Pamanku adalah ilmuan yang bekerja berdasarkan sihir. Jadi, bisa dibilang aku adalah penyihir angin ciptaannya.
Setelah menjadi ‘penyihir’, aku memutuskan untuk pulang ke ayah dan ibuku. Kerinduan terhadap mereka dan adikku satu-satunya sudah tak bisa dibendung lagi. Aku pun telah sadar bahwa jika bersama paman aku akan menciptakan kehancuran. Cukup lama aku hidup bahagia bersama keluargaku. Namun, tiba-tiba Pamanku datang mengoyak kebahagiaan kami. Ia datang bersama penyihir-penyihir baru buatannya. Katanya, ia ingin menguji kekuatan makhluk baru itu denganku, makhluk pertamanya.
Ayah dan ibuku sontak melindungiku, makhluk yang tidak pantas dilindungi. Namun, ayah dan ibu tak punya kemampuan sihir. Mereka dipenggal dengan kekuatan pedang es oleh penyihir air. Adikku yang tak tahu apa-apa, entah bagaimana ia melompat ke arahku yang sedang dihunus pedang es. Pedang itu tak terhujam padaku melainkan tertancap tepat di jantung adikku. Aku berteriak histeris. Sedangkan Pamanku tertawa bahagia melihat kehebatan kemampuan para ‘penyihir’ itu.
Ah… Mengapa aku teringat tragedi itu di saat seperti ini? Hmmm… Sudah hampir waktunya makan malam. Ke mana bocah itu pergi ya? Ya sudahlah, ku buatkan makanan saja. Argh… Ternyata kepalaku masih pusing. Oh, mana pegangan.
“Kakak? Apa yang sedang kau lakukan di sana?” suara yang khas itu mengalun cemas di telingaku.
“Ekh… Aku mau masak makan malam. Kau mau apa?” balasku.
“Tidak. Jangan. Aku sudah bawakan makan malam dan obat untukmu. Sebaiknya kau istirahat saja, Kak,” nada suaranya masih cemas.
“Hei, Ruxen Maddecton. Siapa kau, beraninya mencemaskan aku?” aku sengaja menggodanya tapi sepertinya tidak berhasil.
“Kau juga siapa, Verucci Exencorr? Berkeras membuatkanku makan malam,” jawabnya ketus.
“Hahaha… Memang mirip dengan Vanessa,” aku tertawa lirih.
“Vanessa Exencorr, pasti adikmu kan?” pertanyaan yang tak perlu jawaban dariku. Itu sudah pasti.
“Maukah kau menggantikannya? Ah, bukan. Maukah kau menjadi adikku?” aku bertanya sambil duduk di konter dapur dan menerawang matanya.
“Jadi, kau belum menganggapku sebagai adikmu? Jahat sekali.”
“Aku hanya meminta persetujuan darimu.”
Entah seperti apa kejadiannya, gadis mungil itu memelukku erat. Perasaan nyaman yang dulu pernah ada kini hadir kembali. Aku sudah pernah merasakan kebahagiaan. Tetapi, kebahagiaan ini terasa berbeda. Kebahagiaan yang muncul setelah ia menemukanku. Kebahagiaan yang diberikan oleh penyihir api murni.
|~~~~|
Hujan kembali turun dengan lebatnya. Meski lagi-lagi tak ada petir maupun halilintar. Tetapi, rumahku yang dulu rapuh telah berubah kokoh. Walaupun demikian, pemandangan yang sama pun masih tetap terlihat. Ia mengetuk pintu rumah dengan air yang menetes deras dari ujung-ujung rambutnya yang terpilin. Bajunya yang basah kuyup juga persis sama menempel dan tercetak di tubuhnya yang ramping. Kucingku sudah remaja. Cantik dan memukau.
“Kakak… Apa kau masih harus menungguku memintanya?” ucapnya menggigil.
“Bakar saja tubuhmu. Pasti hangat,” suka sekali aku menggodanya.
“Itukah yang kau inginkan? Baiklah…” ia memasang kuda-kuda sihir.
“Eits… Masih saja tidak bisa digoda,” ucapku sambil menyentuh kepalanya.
“Aku bukan gadis yang mudah digoda seperti Kakak,” kelakarnya seraya menjulurkan lidah.
“Ya, aku memang gadis yang mudah tergoda,” aku pura-pura bersedih.
“Eng… Kakak, aku tidak bermaksud mengingatkanmu tentang itu,” ujarnya ketakutan.
“Hahaha… Kena kau,” giliranku menjulurkan lidah.
“Kakaaaaak…!!!”
|~~~~|~~~~|~~~~|
Api yang berhembus dahsyat itu adalah miliknya. Entah bagaimana ia bisa menemukanku di sudut-sudut reruntuhan dan puing rumah yang hancur dan terkepung oleh penyihir-penyihir ciptaan itu. Tak ku sangka di balik tubuhnya yang mungil dan tampak rapuh, ia memiliki kekuatan yang bisa memusnahkan ilmuan gila itu beserta ciptaanya. Dan tak ku sangka bahwa laki-laki yang berdiri di hadapanku adalah seorang gadis kecil. Penyihir murni yang kini menjadi milikku yang sangat berharga.

Kamis, 26 April 2012

Kau Menangis


Menurut pengetahuanku kau ceria
Hari-harimu kau penuhi dengan canda
Senyum dan tawamu memang tidak manis
Tatapan matamu bahkan tampak sadis
Walau begitu aku masih menganggapmu periang

Bertahun-tahun ku lalui hidup bersamamu
Ku lihat kau tegar
Ku lihat kau tabah
Ku lihat kau tenang
Namun tak ku lihat kau goyah
Namun tak ku lihat kau rapuh

Saat ini kau berkaca padaku
Sosok kita sama, persis tak kecuali
Tapi tampak olehku bahumu yang berguncang
Tapi tampak olehku tanganmu yang gemetar
Kau terlihat berbeda

Ada bulir-bulir air bergulir
Menuruni rona pipimu
Berdesakan keluar dari sudut mata
Tak ku dengar ada isak di sana
Aku ingin berteriak
Kau tersenyum mengucapkannya
Adakah diriku ini tak lagi mengenalmu?

Tak pernah ada sangka diriku padamu
Kau menangis

By Ari
For Ichi-nya

Kamis, 15 Maret 2012

Diam ?!?!

Kau diam
Kau selalu diam
Kau tersenyum menusuk dalam diam
Meski ku tahu ada tangis saat kau diam
Kau semburkan gejolak jiwamu dalam diam
Aku tersayat ketika kau hanya diam
Aku hancur bila kau memintaku diam
Air mata jernihmu meluncur mengirisku saat kau terdiam

Bisakah kau tak lagi diam.?
Sanggupkah aku masih melihatmu diam.?
Mampukah aku membuatmu berpaling dari diam.?
Maukah kau untuk tak lagi terdiam.?

Kumohon padamu untuk berhenti diri berdiam
Meski ku telah selamanya terdiam