Label

Selasa, 29 Mei 2012

My Soul


Kecantikannya membuatku terpesona. Wajah damai menghipnotis jiwa kelabu yang terpuruk. Senyum magis membunuh setiap kebencian yang terlintas. Sikap lembut mengikis pedang penuh darah yang terhujam. Gadis istimewa dengan tinggi semampai. Rambut cokelat yang lurus jatuh lembut hingga pinggang. Mata perak dengan hidung mancung dan bibir mungil menghiasi wajah yang oval. Ku nikmati dan ku kagumi sosok itu pada cermin di hadapanku.
Aku bukan sedang menatap diriku sendiri di cermin. Aku sedang mengamati jiwa lain yang tersemayamkan dalam tubuhku. Jiwa yang selama ini menyokong roh dan ragaku, yang menjagaku tetap hidup. Tak pernah ku bayangkan bila diriku tak terpilih olehnya. Mungkin saat itu aku tidak akan mampu bertahan. Atas semua pertolongannya aku bisa menatap sosoknya jauh dalam cermin seperti ini.
Perang besar yang memakan jutaan jiwa itu juga telah melukai jiwaku. Memang bukan nyawa yang menjadi korban. Tapi manusia tanpa jiwa tak memiliki arti. Dan perang itu memang bukan juga perang yang terjadi di dunia nyata. Melainkan perang yang diikuti oleh para dewa dan iblis. Perang pemusnahan manusia oleh para iblis. Perang yang tidak melibatkan manusia tetapi berimbas pada kehancuran jiwa manusia. Namun aku yang memiliki kutukan, yang sering disebut dengan sixth sense, malah terlibat langsung dalam pertempuran.
Aku dan beberapa saudaraku terpilih menjadi manusia yang terwarisi oleh kemampuan ‘melihat’ dunia dalam berbagai dimensi ruang dan waktu. Kami memang tidak memiliki kemampuan untuk mengutak-atik dimensi-dimensi itu. Namun, melihat sesuatu yang tidak layak dilihat adalah sebuah siksaan. Apalagi bila kami tidak bisa mengendalikannya, kemampuan itu akan merusak jiwa kami. Oleh karena itu, saat kami telah teridentifikasi memliki kemampuan itu, kami dilatih untuk mengendalikan penglihatan.
Aku tidak mengerti, mengapa semua ketidakberuntungan jatuh pada keturunan seperti diriku. Aku memegang rekor sebagai pewaris kutukan terlemah yang pernah ada. Mendapat gelar seperti itu sesungguhnya aku sangat bahagia. Mengapa? Tentu saja dengan begitu aku tidak perlu mengikuti pelatihan pengendalian. Karena sesungguhnya latihan itu membutuhkan korban jiwa. Korban itu bisa saja jiwamu sendiri atau orang lain yang memiliki ikatan tertentu dengan jiwamu.
Kemampuan kami ini, kusebut sebagai kutukan bukan tanpa sebab. Aku memang bisa menggunakannya, namun aku tahu resiko apa yang akan terjadi pada semua keturunan bahkan pada nonpewaris sekali pun. Semua orang yang memiliki hubungan darah dengan pewaris akan menjadi korban untuk mengendalikan kemampuan itu. Dalam pelatihan, para pewaris akan diuji  ketahanan jiwanya dengan memilih korban pertama yang akan menjadi pengendali.
Keturunan nonpewaris tidak mampu menerima informasi dan penglihatan dari berbagai dimensi dunia. Namun, seorang pewaris dapat menerima semua informasi tanpa mengenal waktu sehingga jiwanya akan semakin melemah. Dengan adanya korban yang memiliki hubungan darah, para pewaris bisa menutup penglihatannya menggunakan jiwa dari korban tanpa terjadi penolakan jiwa oleh pewaris. Oleh karena itu, pelatihan sejatinya bukan untuk mengendalikan melainkan untuk mendapatkan jiwa pengendali.
Pada akhirnya, melalui penolakan yang terus terlontar, aku berhasil mengundurkan diri dari pelatihan. Namun ternyata aku terdeteksi sebagai pewaris utama wanita yang memiliki kekuatan kedua terbesar sehingga aku dipaksa memilih seseorang untuk menjadi pengendali kemampuanku. Sungguh aku tidak bisa memilih satu jiwa pun yang akan menjadi korban. Dan aku sanggup mengatakan bahwa tak ada cukup jiwa yang mampu mengendalikan kemampuanku, dengan bumbu dusta.
Terus dan terus melarikan diri adalah kemampuan baruku sekarang. Meskipun begitu aku tetap tidak bisa mengelak akan peranku dalam peperangan itu. Aku adalah penentu berakhirnya pemusnahan itu. Sebagai pewaris utama wanita, ternyata aku hanya bisa melihat dimensi waktu yang berbeda. Sedangkan pewaris utama pria, bisa melihat dimensi ruang dan waktu yang berbeda secara bersamaan. Karena penglihatan waktuku lebih kuat, aku diincar kedua belah pihak yang bertempur, baik para dewa maupun para iblis. Mereka semua memiliki pertanyaan yang sama. Kapan perang ini akan berakhir dan siapa pemenangnya.
Di tengah incaran para dewa yang bertindak seperti iblis dan para iblis yang sudah tak layak disebut sekedar iblis, aku ditemukan oleh sosok jiwa yang mempesona. Ia memiliki rambut cokelat yang panjang dan lurus seperti milikku. Tatapannya teduh dan sejuk bagai beringin di penghujung padang pasir. Mata peraknya dingin dan sebening air hulu. Sosok jiwa itu memiliki tanduk dan ekor iblis, serta sayap dan tiara dewa. Yang ku tahu sosok seperti itu adalah penyeimbang dunia, sang Fortune. Dan ia telah memilihku sebagai pendamping jiwanya. Ia telah menghidupkan kembali jiwaku yang terkoyak. Memberikan akhir bahagia pada ujung peperangan yang tak dapat terlihat.
Dear, My Soul

Jumat, 04 Mei 2012

Pure Fire Cat


Hembusan api biru yang kencang bertiup. Namun, lelaki misterius itu tak bergeming dari tempatnya berdiri. Wajahnya yang manis tampak santai meski ujung rambut dan pakaiannya terbakar. Senyum tipis terukir sekilas dari bibirnya. Ia bahkan tidak berdiri tegak atau gagah. Seolah ia hanya orang yang sekedar lewat dan berhenti di hadapanku.
|~~~~|~~~~|~~~~|
Hujan turun sangat lebat, walau tak ada petir yang tersambar namun gemuruh terdengar sangat keras. Air menetes-netes cukup deras dari rambut ikalnya yang terpilin. Baju yang basah kuyup menempel lekat pada tubuhnya. Giginya tampak bergemeletuk menggigil. Ketukan yang pelan dan cepat bergulir di telingaku.
“Kucingku basah,” ucapku padanya seraya tertawa geli.
“Kakak, aku sudah tidak tahan. Tolonglah…” pintanya.
“Mundur sedikit. Nanti rumahku basah,” perintahku masih tertawa.
“Cepatlah, Kakak. Dingin sekali…” matanya mulai ikut hujan.
“Baiklah, baiklah,” aku tidak tahan melihatnya menggigil meski ia sangat lucu saat basah.
Dengan satu sentuhan ringan, aku telah mengeringkan seluruh tubuhnya. Dan matanya yang hujan telah bersinar lagi. Suara gemuruh badai mendadak terhambur di hadapan kami. Ia yang terkejut segera melompat masuk dan menutup pintu rumahku yang rapuh dengan keras. Ia tersenyum konyol melihatku yang telah melempar aura membunuh di sampingnya.
Ia memelukku mencari perhatian agar perbuatannya terhadap pintuku dimaafkan. Sementara aku yang masih kesal terus mengutuknya pelan sambil membuatkan makan malam. Kekuatan dan kenakalannya yang luar biasa itu sering membuatku terbakar. Sebagai seorang gadis remaja yang labil aku tidak bisa menerima segala sesuatu yang mengganggu kehidupanku. Namun, entah bagaimana bisa menjadi suatu pengecualian untuknya.
|~~~~|
“Kakak, kau baik-baik saja?”
“Eng? Iya, aku hanya sedikit pusing.”
“Kalau begitu istirahat saja. Aku akan pergi sebentar dan akan kusempatkan membeli obat untukmu.”
“Yah, terima kasih. Hati-hati ya…”
Awan kelabu menggelayuti matanya yang indah. Ia mencemaskan aku yang memang lemah ini. Entah mengapa aku menyukai gadis kecil itu. Rambutnya biru gelap berpotongan laki-laki. Meski begitu, wajahnya sangat manis dan lucu. Tak pernah bisa aku menolak keinginannya. Ia mengingatkan aku pada adikku yang sudah tiada. Ah… Aku memang sudah tidak punya keluarga lagi.
Sudah dua tahun aku melalui kehidupan ini sendirian. Tidak lagi setelah bertemu dengannya, itu sudah pasti. Seluruh anggota keluargaku tewas dibantai. Semua dipenggal satu per satu. Dan aku tahu semua itu salahku. Ya, salahku yang terhasut oleh ambisi seorang ilmuan gila. Betapa bodohnya aku saat itu. Aku tunduk dan patuh pada ilmuan itu karena rayuan mautnya. Aku dijanjikan memiliki kemampuan dan kekuatan khusus.
Suatu percobaan illegal dilakukan oleh Pamanku, sang ilmuan gila. Paman yang tahu bahwa aku tergila-gila dengan angin menawariku menjadi objek percobaannya yang pertama. Tak pernah ku sangka ia berhasil. Aku menjadi gadis kecil yang bisa mengendalikan angin sesuka hati. Jangan pernah berpikir Pamanku adalah ilmuan yang ilmiah. Pamanku adalah ilmuan yang bekerja berdasarkan sihir. Jadi, bisa dibilang aku adalah penyihir angin ciptaannya.
Setelah menjadi ‘penyihir’, aku memutuskan untuk pulang ke ayah dan ibuku. Kerinduan terhadap mereka dan adikku satu-satunya sudah tak bisa dibendung lagi. Aku pun telah sadar bahwa jika bersama paman aku akan menciptakan kehancuran. Cukup lama aku hidup bahagia bersama keluargaku. Namun, tiba-tiba Pamanku datang mengoyak kebahagiaan kami. Ia datang bersama penyihir-penyihir baru buatannya. Katanya, ia ingin menguji kekuatan makhluk baru itu denganku, makhluk pertamanya.
Ayah dan ibuku sontak melindungiku, makhluk yang tidak pantas dilindungi. Namun, ayah dan ibu tak punya kemampuan sihir. Mereka dipenggal dengan kekuatan pedang es oleh penyihir air. Adikku yang tak tahu apa-apa, entah bagaimana ia melompat ke arahku yang sedang dihunus pedang es. Pedang itu tak terhujam padaku melainkan tertancap tepat di jantung adikku. Aku berteriak histeris. Sedangkan Pamanku tertawa bahagia melihat kehebatan kemampuan para ‘penyihir’ itu.
Ah… Mengapa aku teringat tragedi itu di saat seperti ini? Hmmm… Sudah hampir waktunya makan malam. Ke mana bocah itu pergi ya? Ya sudahlah, ku buatkan makanan saja. Argh… Ternyata kepalaku masih pusing. Oh, mana pegangan.
“Kakak? Apa yang sedang kau lakukan di sana?” suara yang khas itu mengalun cemas di telingaku.
“Ekh… Aku mau masak makan malam. Kau mau apa?” balasku.
“Tidak. Jangan. Aku sudah bawakan makan malam dan obat untukmu. Sebaiknya kau istirahat saja, Kak,” nada suaranya masih cemas.
“Hei, Ruxen Maddecton. Siapa kau, beraninya mencemaskan aku?” aku sengaja menggodanya tapi sepertinya tidak berhasil.
“Kau juga siapa, Verucci Exencorr? Berkeras membuatkanku makan malam,” jawabnya ketus.
“Hahaha… Memang mirip dengan Vanessa,” aku tertawa lirih.
“Vanessa Exencorr, pasti adikmu kan?” pertanyaan yang tak perlu jawaban dariku. Itu sudah pasti.
“Maukah kau menggantikannya? Ah, bukan. Maukah kau menjadi adikku?” aku bertanya sambil duduk di konter dapur dan menerawang matanya.
“Jadi, kau belum menganggapku sebagai adikmu? Jahat sekali.”
“Aku hanya meminta persetujuan darimu.”
Entah seperti apa kejadiannya, gadis mungil itu memelukku erat. Perasaan nyaman yang dulu pernah ada kini hadir kembali. Aku sudah pernah merasakan kebahagiaan. Tetapi, kebahagiaan ini terasa berbeda. Kebahagiaan yang muncul setelah ia menemukanku. Kebahagiaan yang diberikan oleh penyihir api murni.
|~~~~|
Hujan kembali turun dengan lebatnya. Meski lagi-lagi tak ada petir maupun halilintar. Tetapi, rumahku yang dulu rapuh telah berubah kokoh. Walaupun demikian, pemandangan yang sama pun masih tetap terlihat. Ia mengetuk pintu rumah dengan air yang menetes deras dari ujung-ujung rambutnya yang terpilin. Bajunya yang basah kuyup juga persis sama menempel dan tercetak di tubuhnya yang ramping. Kucingku sudah remaja. Cantik dan memukau.
“Kakak… Apa kau masih harus menungguku memintanya?” ucapnya menggigil.
“Bakar saja tubuhmu. Pasti hangat,” suka sekali aku menggodanya.
“Itukah yang kau inginkan? Baiklah…” ia memasang kuda-kuda sihir.
“Eits… Masih saja tidak bisa digoda,” ucapku sambil menyentuh kepalanya.
“Aku bukan gadis yang mudah digoda seperti Kakak,” kelakarnya seraya menjulurkan lidah.
“Ya, aku memang gadis yang mudah tergoda,” aku pura-pura bersedih.
“Eng… Kakak, aku tidak bermaksud mengingatkanmu tentang itu,” ujarnya ketakutan.
“Hahaha… Kena kau,” giliranku menjulurkan lidah.
“Kakaaaaak…!!!”
|~~~~|~~~~|~~~~|
Api yang berhembus dahsyat itu adalah miliknya. Entah bagaimana ia bisa menemukanku di sudut-sudut reruntuhan dan puing rumah yang hancur dan terkepung oleh penyihir-penyihir ciptaan itu. Tak ku sangka di balik tubuhnya yang mungil dan tampak rapuh, ia memiliki kekuatan yang bisa memusnahkan ilmuan gila itu beserta ciptaanya. Dan tak ku sangka bahwa laki-laki yang berdiri di hadapanku adalah seorang gadis kecil. Penyihir murni yang kini menjadi milikku yang sangat berharga.