Label

Jumat, 04 Mei 2012

Pure Fire Cat


Hembusan api biru yang kencang bertiup. Namun, lelaki misterius itu tak bergeming dari tempatnya berdiri. Wajahnya yang manis tampak santai meski ujung rambut dan pakaiannya terbakar. Senyum tipis terukir sekilas dari bibirnya. Ia bahkan tidak berdiri tegak atau gagah. Seolah ia hanya orang yang sekedar lewat dan berhenti di hadapanku.
|~~~~|~~~~|~~~~|
Hujan turun sangat lebat, walau tak ada petir yang tersambar namun gemuruh terdengar sangat keras. Air menetes-netes cukup deras dari rambut ikalnya yang terpilin. Baju yang basah kuyup menempel lekat pada tubuhnya. Giginya tampak bergemeletuk menggigil. Ketukan yang pelan dan cepat bergulir di telingaku.
“Kucingku basah,” ucapku padanya seraya tertawa geli.
“Kakak, aku sudah tidak tahan. Tolonglah…” pintanya.
“Mundur sedikit. Nanti rumahku basah,” perintahku masih tertawa.
“Cepatlah, Kakak. Dingin sekali…” matanya mulai ikut hujan.
“Baiklah, baiklah,” aku tidak tahan melihatnya menggigil meski ia sangat lucu saat basah.
Dengan satu sentuhan ringan, aku telah mengeringkan seluruh tubuhnya. Dan matanya yang hujan telah bersinar lagi. Suara gemuruh badai mendadak terhambur di hadapan kami. Ia yang terkejut segera melompat masuk dan menutup pintu rumahku yang rapuh dengan keras. Ia tersenyum konyol melihatku yang telah melempar aura membunuh di sampingnya.
Ia memelukku mencari perhatian agar perbuatannya terhadap pintuku dimaafkan. Sementara aku yang masih kesal terus mengutuknya pelan sambil membuatkan makan malam. Kekuatan dan kenakalannya yang luar biasa itu sering membuatku terbakar. Sebagai seorang gadis remaja yang labil aku tidak bisa menerima segala sesuatu yang mengganggu kehidupanku. Namun, entah bagaimana bisa menjadi suatu pengecualian untuknya.
|~~~~|
“Kakak, kau baik-baik saja?”
“Eng? Iya, aku hanya sedikit pusing.”
“Kalau begitu istirahat saja. Aku akan pergi sebentar dan akan kusempatkan membeli obat untukmu.”
“Yah, terima kasih. Hati-hati ya…”
Awan kelabu menggelayuti matanya yang indah. Ia mencemaskan aku yang memang lemah ini. Entah mengapa aku menyukai gadis kecil itu. Rambutnya biru gelap berpotongan laki-laki. Meski begitu, wajahnya sangat manis dan lucu. Tak pernah bisa aku menolak keinginannya. Ia mengingatkan aku pada adikku yang sudah tiada. Ah… Aku memang sudah tidak punya keluarga lagi.
Sudah dua tahun aku melalui kehidupan ini sendirian. Tidak lagi setelah bertemu dengannya, itu sudah pasti. Seluruh anggota keluargaku tewas dibantai. Semua dipenggal satu per satu. Dan aku tahu semua itu salahku. Ya, salahku yang terhasut oleh ambisi seorang ilmuan gila. Betapa bodohnya aku saat itu. Aku tunduk dan patuh pada ilmuan itu karena rayuan mautnya. Aku dijanjikan memiliki kemampuan dan kekuatan khusus.
Suatu percobaan illegal dilakukan oleh Pamanku, sang ilmuan gila. Paman yang tahu bahwa aku tergila-gila dengan angin menawariku menjadi objek percobaannya yang pertama. Tak pernah ku sangka ia berhasil. Aku menjadi gadis kecil yang bisa mengendalikan angin sesuka hati. Jangan pernah berpikir Pamanku adalah ilmuan yang ilmiah. Pamanku adalah ilmuan yang bekerja berdasarkan sihir. Jadi, bisa dibilang aku adalah penyihir angin ciptaannya.
Setelah menjadi ‘penyihir’, aku memutuskan untuk pulang ke ayah dan ibuku. Kerinduan terhadap mereka dan adikku satu-satunya sudah tak bisa dibendung lagi. Aku pun telah sadar bahwa jika bersama paman aku akan menciptakan kehancuran. Cukup lama aku hidup bahagia bersama keluargaku. Namun, tiba-tiba Pamanku datang mengoyak kebahagiaan kami. Ia datang bersama penyihir-penyihir baru buatannya. Katanya, ia ingin menguji kekuatan makhluk baru itu denganku, makhluk pertamanya.
Ayah dan ibuku sontak melindungiku, makhluk yang tidak pantas dilindungi. Namun, ayah dan ibu tak punya kemampuan sihir. Mereka dipenggal dengan kekuatan pedang es oleh penyihir air. Adikku yang tak tahu apa-apa, entah bagaimana ia melompat ke arahku yang sedang dihunus pedang es. Pedang itu tak terhujam padaku melainkan tertancap tepat di jantung adikku. Aku berteriak histeris. Sedangkan Pamanku tertawa bahagia melihat kehebatan kemampuan para ‘penyihir’ itu.
Ah… Mengapa aku teringat tragedi itu di saat seperti ini? Hmmm… Sudah hampir waktunya makan malam. Ke mana bocah itu pergi ya? Ya sudahlah, ku buatkan makanan saja. Argh… Ternyata kepalaku masih pusing. Oh, mana pegangan.
“Kakak? Apa yang sedang kau lakukan di sana?” suara yang khas itu mengalun cemas di telingaku.
“Ekh… Aku mau masak makan malam. Kau mau apa?” balasku.
“Tidak. Jangan. Aku sudah bawakan makan malam dan obat untukmu. Sebaiknya kau istirahat saja, Kak,” nada suaranya masih cemas.
“Hei, Ruxen Maddecton. Siapa kau, beraninya mencemaskan aku?” aku sengaja menggodanya tapi sepertinya tidak berhasil.
“Kau juga siapa, Verucci Exencorr? Berkeras membuatkanku makan malam,” jawabnya ketus.
“Hahaha… Memang mirip dengan Vanessa,” aku tertawa lirih.
“Vanessa Exencorr, pasti adikmu kan?” pertanyaan yang tak perlu jawaban dariku. Itu sudah pasti.
“Maukah kau menggantikannya? Ah, bukan. Maukah kau menjadi adikku?” aku bertanya sambil duduk di konter dapur dan menerawang matanya.
“Jadi, kau belum menganggapku sebagai adikmu? Jahat sekali.”
“Aku hanya meminta persetujuan darimu.”
Entah seperti apa kejadiannya, gadis mungil itu memelukku erat. Perasaan nyaman yang dulu pernah ada kini hadir kembali. Aku sudah pernah merasakan kebahagiaan. Tetapi, kebahagiaan ini terasa berbeda. Kebahagiaan yang muncul setelah ia menemukanku. Kebahagiaan yang diberikan oleh penyihir api murni.
|~~~~|
Hujan kembali turun dengan lebatnya. Meski lagi-lagi tak ada petir maupun halilintar. Tetapi, rumahku yang dulu rapuh telah berubah kokoh. Walaupun demikian, pemandangan yang sama pun masih tetap terlihat. Ia mengetuk pintu rumah dengan air yang menetes deras dari ujung-ujung rambutnya yang terpilin. Bajunya yang basah kuyup juga persis sama menempel dan tercetak di tubuhnya yang ramping. Kucingku sudah remaja. Cantik dan memukau.
“Kakak… Apa kau masih harus menungguku memintanya?” ucapnya menggigil.
“Bakar saja tubuhmu. Pasti hangat,” suka sekali aku menggodanya.
“Itukah yang kau inginkan? Baiklah…” ia memasang kuda-kuda sihir.
“Eits… Masih saja tidak bisa digoda,” ucapku sambil menyentuh kepalanya.
“Aku bukan gadis yang mudah digoda seperti Kakak,” kelakarnya seraya menjulurkan lidah.
“Ya, aku memang gadis yang mudah tergoda,” aku pura-pura bersedih.
“Eng… Kakak, aku tidak bermaksud mengingatkanmu tentang itu,” ujarnya ketakutan.
“Hahaha… Kena kau,” giliranku menjulurkan lidah.
“Kakaaaaak…!!!”
|~~~~|~~~~|~~~~|
Api yang berhembus dahsyat itu adalah miliknya. Entah bagaimana ia bisa menemukanku di sudut-sudut reruntuhan dan puing rumah yang hancur dan terkepung oleh penyihir-penyihir ciptaan itu. Tak ku sangka di balik tubuhnya yang mungil dan tampak rapuh, ia memiliki kekuatan yang bisa memusnahkan ilmuan gila itu beserta ciptaanya. Dan tak ku sangka bahwa laki-laki yang berdiri di hadapanku adalah seorang gadis kecil. Penyihir murni yang kini menjadi milikku yang sangat berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar