Hembusan
api biru yang kencang bertiup. Namun, lelaki misterius itu tak bergeming dari
tempatnya berdiri. Wajahnya yang manis tampak santai meski ujung rambut dan
pakaiannya terbakar. Senyum tipis terukir sekilas dari bibirnya. Ia bahkan
tidak berdiri tegak atau gagah. Seolah ia hanya orang yang sekedar lewat dan
berhenti di hadapanku.
|~~~~|~~~~|~~~~|
Hujan
turun sangat lebat, walau tak ada petir yang tersambar namun gemuruh terdengar
sangat keras. Air menetes-netes cukup deras dari rambut ikalnya yang terpilin.
Baju yang basah kuyup menempel lekat pada tubuhnya. Giginya tampak bergemeletuk
menggigil. Ketukan yang pelan dan cepat bergulir di telingaku.
“Kucingku
basah,” ucapku padanya seraya tertawa geli.
“Kakak,
aku sudah tidak tahan. Tolonglah…” pintanya.
“Mundur
sedikit. Nanti rumahku basah,” perintahku masih tertawa.
“Cepatlah,
Kakak. Dingin sekali…” matanya mulai ikut hujan.
“Baiklah,
baiklah,” aku tidak tahan melihatnya menggigil meski ia sangat lucu saat basah.
Dengan
satu sentuhan ringan, aku telah mengeringkan seluruh tubuhnya. Dan matanya yang
hujan telah bersinar lagi. Suara gemuruh badai mendadak terhambur di hadapan
kami. Ia yang terkejut segera melompat masuk dan menutup pintu rumahku yang
rapuh dengan keras. Ia tersenyum konyol melihatku yang telah melempar aura
membunuh di sampingnya.
Ia
memelukku mencari perhatian agar perbuatannya terhadap pintuku dimaafkan.
Sementara aku yang masih kesal terus mengutuknya pelan sambil membuatkan makan
malam. Kekuatan dan kenakalannya yang luar biasa itu sering membuatku terbakar.
Sebagai seorang gadis remaja yang labil aku tidak bisa menerima segala sesuatu
yang mengganggu kehidupanku. Namun, entah bagaimana bisa menjadi suatu
pengecualian untuknya.
|~~~~|
“Kakak,
kau baik-baik saja?”
“Eng?
Iya, aku hanya sedikit pusing.”
“Kalau
begitu istirahat saja. Aku akan pergi sebentar dan akan kusempatkan membeli
obat untukmu.”
“Yah,
terima kasih. Hati-hati ya…”
Awan
kelabu menggelayuti matanya yang indah. Ia mencemaskan aku yang memang lemah
ini. Entah mengapa aku menyukai gadis kecil itu. Rambutnya biru gelap
berpotongan laki-laki. Meski begitu, wajahnya sangat manis dan lucu. Tak pernah
bisa aku menolak keinginannya. Ia mengingatkan aku pada adikku yang sudah
tiada. Ah… Aku memang sudah tidak punya keluarga lagi.
Sudah dua
tahun aku melalui kehidupan ini sendirian. Tidak lagi setelah bertemu
dengannya, itu sudah pasti. Seluruh anggota keluargaku tewas dibantai. Semua
dipenggal satu per satu. Dan aku tahu semua itu salahku. Ya, salahku yang
terhasut oleh ambisi seorang ilmuan gila. Betapa bodohnya aku saat itu. Aku
tunduk dan patuh pada ilmuan itu karena rayuan mautnya. Aku dijanjikan memiliki
kemampuan dan kekuatan khusus.
Suatu percobaan
illegal dilakukan oleh Pamanku, sang ilmuan gila. Paman yang tahu bahwa aku
tergila-gila dengan angin menawariku menjadi objek percobaannya yang pertama.
Tak pernah ku sangka ia berhasil. Aku menjadi gadis kecil yang bisa
mengendalikan angin sesuka hati. Jangan pernah berpikir Pamanku adalah ilmuan yang
ilmiah. Pamanku adalah ilmuan yang bekerja berdasarkan sihir. Jadi, bisa
dibilang aku adalah penyihir angin ciptaannya.
Setelah
menjadi ‘penyihir’, aku memutuskan untuk pulang ke ayah dan ibuku. Kerinduan
terhadap mereka dan adikku satu-satunya sudah tak bisa dibendung lagi. Aku pun
telah sadar bahwa jika bersama paman aku akan menciptakan kehancuran. Cukup
lama aku hidup bahagia bersama keluargaku. Namun, tiba-tiba Pamanku datang
mengoyak kebahagiaan kami. Ia datang bersama penyihir-penyihir baru buatannya.
Katanya, ia ingin menguji kekuatan makhluk baru itu denganku, makhluk
pertamanya.
Ayah dan
ibuku sontak melindungiku, makhluk yang tidak pantas dilindungi. Namun, ayah
dan ibu tak punya kemampuan sihir. Mereka dipenggal dengan kekuatan pedang es
oleh penyihir air. Adikku yang tak tahu apa-apa, entah bagaimana ia melompat ke
arahku yang sedang dihunus pedang es. Pedang itu tak terhujam padaku melainkan
tertancap tepat di jantung adikku. Aku berteriak histeris. Sedangkan Pamanku
tertawa bahagia melihat kehebatan kemampuan para ‘penyihir’ itu.
Ah…
Mengapa aku teringat tragedi itu di saat seperti ini? Hmmm… Sudah hampir
waktunya makan malam. Ke mana bocah itu pergi ya? Ya sudahlah, ku buatkan
makanan saja. Argh… Ternyata kepalaku masih pusing. Oh, mana pegangan.
“Kakak?
Apa yang sedang kau lakukan di sana?” suara yang khas itu mengalun cemas di
telingaku.
“Ekh… Aku
mau masak makan malam. Kau mau apa?” balasku.
“Tidak.
Jangan. Aku sudah bawakan makan malam dan obat untukmu. Sebaiknya kau istirahat
saja, Kak,” nada suaranya masih cemas.
“Hei,
Ruxen Maddecton. Siapa kau, beraninya mencemaskan aku?” aku sengaja menggodanya
tapi sepertinya tidak berhasil.
“Kau juga
siapa, Verucci Exencorr? Berkeras membuatkanku makan malam,” jawabnya ketus.
“Hahaha…
Memang mirip dengan Vanessa,” aku tertawa lirih.
“Vanessa
Exencorr, pasti adikmu kan?” pertanyaan yang tak perlu jawaban dariku. Itu
sudah pasti.
“Maukah
kau menggantikannya? Ah, bukan. Maukah kau menjadi adikku?” aku bertanya sambil
duduk di konter dapur dan menerawang matanya.
“Jadi,
kau belum menganggapku sebagai adikmu? Jahat sekali.”
“Aku
hanya meminta persetujuan darimu.”
Entah
seperti apa kejadiannya, gadis mungil itu memelukku erat. Perasaan nyaman yang
dulu pernah ada kini hadir kembali. Aku sudah pernah merasakan kebahagiaan.
Tetapi, kebahagiaan ini terasa berbeda. Kebahagiaan yang muncul setelah ia
menemukanku. Kebahagiaan yang diberikan oleh penyihir api murni.
|~~~~|
Hujan
kembali turun dengan lebatnya. Meski lagi-lagi tak ada petir maupun halilintar.
Tetapi, rumahku yang dulu rapuh telah berubah kokoh. Walaupun demikian, pemandangan
yang sama pun masih tetap terlihat. Ia mengetuk pintu rumah dengan air yang
menetes deras dari ujung-ujung rambutnya yang terpilin. Bajunya yang basah
kuyup juga persis sama menempel dan tercetak di tubuhnya yang ramping. Kucingku
sudah remaja. Cantik dan memukau.
“Kakak…
Apa kau masih harus menungguku memintanya?” ucapnya menggigil.
“Bakar
saja tubuhmu. Pasti hangat,” suka sekali aku menggodanya.
“Itukah
yang kau inginkan? Baiklah…” ia memasang kuda-kuda sihir.
“Eits…
Masih saja tidak bisa digoda,” ucapku sambil menyentuh kepalanya.
“Aku
bukan gadis yang mudah digoda seperti Kakak,” kelakarnya seraya menjulurkan
lidah.
“Ya, aku
memang gadis yang mudah tergoda,” aku pura-pura bersedih.
“Eng…
Kakak, aku tidak bermaksud mengingatkanmu tentang itu,” ujarnya ketakutan.
“Hahaha…
Kena kau,” giliranku menjulurkan lidah.
“Kakaaaaak…!!!”
|~~~~|~~~~|~~~~|
Api yang
berhembus dahsyat itu adalah miliknya. Entah bagaimana ia bisa menemukanku di
sudut-sudut reruntuhan dan puing rumah yang hancur dan terkepung oleh
penyihir-penyihir ciptaan itu. Tak ku sangka di balik tubuhnya yang mungil dan
tampak rapuh, ia memiliki kekuatan yang bisa memusnahkan ilmuan gila itu
beserta ciptaanya. Dan tak ku sangka bahwa laki-laki yang berdiri di hadapanku
adalah seorang gadis kecil. Penyihir murni yang kini menjadi milikku yang
sangat berharga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar