Aku terguncang. Hasrat yang dulu memenuhi jiwa kini kembali
membuncah. Haruskah aku menurutinya? Padahal aku sudah berjanji untuk berhenti
sejenak. Aku harus focus pada apa yang sedang ku jalani saat ini. Tapi ia
begitu kuat. Menyeretku kembali ke masa lalu. Ia membayangiku dengan kenangan
yang manis. Kenangan di saat aku bisa melarikan diri dari dunia yang begitu
indah, dari dunia yang mengekang dan mengurungku dalam keluasannya. Aku
merasakan kehadiran orang lain, tanpa harus bersamanya. Aku merasakan ada rasa
pertemanan dan kekeluargaan tanpa ada perjumpaan. Inikah rasa bahagiaku?
Aku bagaikan dalam sebuah kapal. Kapal tua yang rapuh dan
banyak lubang menjadi pijakanku. Layarnya yang hitam dan koyak tak dapat
dilipat ataupun terentang lebar. Dan di depan sana, aku sedang melihat awan
hitam bergulung menawan. Angin sejuk melintas menyapu rambut dan menghempas
tubuhku. Badai datang menyambut layar kapalku. Bagaimana aku harus
mengendalikan kapal ini agar bisa selamat? Apakah aku hanya perlu melompat dan
meninggalkan kapalku? Atau aku akan diam saja dan membiarkan apapun terjadi
menimpaku sesuai takdir?
Aku tahu. Tak akan ada satu orang pun yang bisa membantuku di
saat seperti ini. Hanya otak jernih dan sedikit jiwa yang tenang, yang bisa
menemukan titik bercahaya jauh di depan badai gelap. Namun, sayangnya otak
sedang berkabut dan jiwa telah panic. Adakah yang bisa menebak akhir dari kisah
ini? Jika jawabnya adalah Tuhan, maka tak ada usaha apa pun yang akan dicoba.
Aku ingin mencoba segalanya. Lelah tubuhku sendirilah yang kini menjadi
hambatan.
Adil. Mungkin sebagian orang putus asa akan menyatakan bahwa
Tuhan tidak adil. Tetapi menurutku, ini sangatlah adil dalam kehidupanku. Adil
bukan berarti sama rata. Itulah peganganku. Walau terkadang masih saja pikiran
terlintas mengenai ketidakadilan. Aku tetap menelan semua keluhku. Hanya
membicarakan pada beberapa orang yang terdekat saja.
Tulisan ini hanyalah sedikit dari beban pikiran dan jiwa yang
ku lepaskan. Yah, mungkin aku bukan penulis hebat yang menulis dengan indah.
Tetapi, apakah seseorang tidak boleh menumpahkan isi pikirannya ke dalam
tulisan? Apakah hanya tulisan berseni yang bisa dipamerkan? Apakah yang
dipublikasikan pada orang banyak harus sesuatu yang bersifat umum? Apakah hal
pribadi tidak layak untuk dimengerti orang banyak?
Dear, my soul