Label

Rabu, 05 Oktober 2011

Berubah

Perubahan, getir
Mata kian beku buka telinga
Suara mati, beku berlian asah
Tak dengar seolah petir
Kumohon kembalilah pada semua
Tinggalkan tabu tutup resah
Sayang, aku telah di sini
Terbang resahku pada pelangi
Angkat murkamu dalam api
Mata ini tak akan sanggup cair lagi
Biarkan gelap senantiasa temani
Kau tak berpaling padaku
Kobaran ini hancurkan jiwa
Tak bisakah aku menyentuh matamu
Dingin mata beku tak mampu luka
Memori indah telah terpaku
Robeknya sanggup bekukan mata
Jawab jiwaku jangan jengah
Curi cemeti cukup cerah
Dalam duri dekap deras
Mulai muka masuk malas
Hanya jiwa yang akan paham
Aku tak pernah menatap siapapun
Kau pergi tanpa sadar
Seolah aku tak peduli jiwamu
Sayang, aku adalah cerminmu
Aku tak akan pernah membohongi
Bayangan ini akan selalu di depanmu

Selasa, 12 Juli 2011

Dinyan :)

Kemarin aku terkejut setengah mati..

Hari ini jiwaku kembali terkoyak..

Ku membaca kiriman astrologi di e-mailku yang berisi..

"The King of Chalices card suggests that my power today lies in emotional availability. I inspire, protect and nurture with reliable compassion, respect, and affection. I am a master in the art and am secure enough in my role to connect to, express and pursue my hearts desire while defending the greater good of those who rely on me. I am empowered by consistency and patience while trust is my gift or Holy Grail."

Dan teringat peristiwa saat jam istirahat di sekolah..

Aku tahu ini pilihannya, dan aku tak mempunyai kuasa apapun..

Apa ini bisa disebut sakit hati.? Aku juga tidak tahu..

Dia memang lebih baik, lebih berani, dan lebih tegar..

Hari ini dia datang meminta maaf dengan diiringi air mata..

Padahal menurutku, tidak perlu meminta maaf pun kami sudah mengerti dan tidak menanyakan alasannya..

Aku tahu dia tulus saat mengucapkannya..

Seharusnya dia pun tahu kami juga tulus saat menatapnya..

Siswa PUK yang menyenangkan, kami sudah seperti keluarga dengannya..

Kami masih menyayanginya tanpa ragu dan tanpa batasan..

Kami khususnya ‘aku’ memang tidak berhak menata hidupnya..

Saat mengingatnya, pikiranku kembali ke masa awal kami bertemu..

Melakukan MOS tanpa saling kenal dengannya..

Meskipun belum terlalu kenal, tidak biasanya aku langsung merasa nyaman dengan orang lain..

Dia dan ketiga teman ‘baru’ku membuatku tenang duduk di kelas yang kecil itu..

Sesuatu yang sangat jarang bisa kurasakan dan kuungkapkan..

Dia adalah ketua kelas pertama kami..walaupun merasa asing dia menjalankan tugasnya dengan baik..

Dia memang orang yang baik,, dia lebih pendiam dibandingkan dua temanku yang lain..

Namun, satu celetukan ringannya bisa mengejutkan seluruh kelas..

Dia hebat, bisa bertahan sampai akhir semester kemarin meski dengan perasaan tak nyaman..Salut kepadanya..

Dia memberikan banyak sekali kenangan indah bersama kami..

Aku tidak pernah kecewa terhadapmu..Kau hebat dan tangguh..

Sebenarnya aku juga ingin menangis bersamamu dan yang lain..

Tapi aku tidak bisa, aku sudah terikat dengan sebuah janji untuk tidak menangis..

Maaf bila aku terlalu munafik seperti ini..

Maaf..Maaf  jika aku hanya bisa menuliskan sedikit tentang dirimu..

Aku bukan tipe orang yang pandai berkata-kata..

Tapi, aku ingin ungkapkan yang aku rasakan..

Untuk pertama kali aku bisa semudah ini bertutur..

Selalu kuingatkan padamu bahwa kami selalu ada untukmu..

Dan dirimu juga merupakan salah satu milikku yang berharga..

I love you my friend, my brother and my friends, my family..
And we love you forever..
Good Luck, guys..

For : Nyan~~sap-piie.. :’)

Senin, 30 Mei 2011

Ingin


Aku ingin menjadi gadis kecil yang memiliki seseorang yang dirindukan,
aku juga ingin memeluknya penuh kasih dan kerinduan serta tangis kebahagiaan.




Aku ingin punya seseorang yang mau meminjamkan
bahu atau pelukannya untuk meredam tangisku.
Aku ingin punya seseorang yang bisa menepis setiap kegalauanku,
keresahanku, ketakutanku, dan bahkan bisa menepis dirinya sendiri.
Aku ingin punya orang yang selalu menemani hari-hariku.
Walaupun tidak selalu dengan kegembiraan.
Aku ingin mengembalikan semua milikku yang lebih berharga
yang satu per satu pergi entah mengapa meninggalkanku.

Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah...

Always I do it everyday..
I hope you'll be here soon..
Someone, although I don't know you..
I'll be here to hug your shadow..

Selasa, 17 Mei 2011

Terima Kasih

Aku tahu hidupku sudah tak seperti dulu lagi. Aku paham aku hampir menghilangkan milikku yang lain. Hanya bisa kupeluk bayangmu. Saat ini aku memang sangat merindukan peluk hangat yang penuh kasih sayang. Peluk manja yang selalu kau berikan. Aku memang hanya bisa bermanja pada dirimu, milikku yang lebih berharga.

Sekarang aku bisa merasakan secercah kebahagiaan dari orang-orang yang menyayangiku *kurasa*. Teman-temanku dan keluargaku, maaf. Selama ini aku hidup bagaikan zombie. Hanya memakai topeng untuk menyembunyikan jati diriku. Jika ada yang tertawa maka aku ikut tertawa, jika ada yang menangis aku ikut bersedih. Tetapi, tak ada yang tulus dari hati.

Sekarang aku bisa membaca lagi, ekspresiku tak lagi palsu. Membaca raut kalian sungguh menenangkan. Walaupun, aku ikut kecewa dalam raut kalian yang sendu. Aku cukup bahagia sekarang, walau takdir yang kutempuh cukup rumit. Kumohon maafkan aku yang telah membohongi kalian. Kuucapkan terima kasih yang tak terhingga, walau tak cukup membalas kebaikan kalian. Aku bahagia bisa hidup bersama kalian, orang-orang yang lebih berharga dari apapun. Kumiliki, kujaga, dan kurengkuh dengan tanganku yang rapuh ini.

Maaf dan Terima Kasih.

Senin, 09 Mei 2011

Air.?

Dingin, basah, jernih, suci
Bulir bening turun meluncur
Saat tersentuh, ku rasakan sesak
Mataku panas, mencair madu
Aku tak mengerti apapun
Kuusap perlahan sudut-sudutnya
Sesuatu bergejolak, memaksanya keluar
Suaraku tercekat terdesak oleh gumam
Pandangan terhalang, kabur meredup
Kupejam lagi, kurasakan basah
Dingin tersapu angin, menggigil
Jiwaku kembali terpanggil
Menjawab lirih sebuah desah
Tahukah engkau air yang semacam ini.?
Mengapa aku menjadi lemah.?
Siapa yang membangunkan jiwaku.?
Diam, dengarkan.!
Jiwamu masih di sini, menunggu
Diam, rasakan.!
Jiwamu tertatih merengkuh hidup
Diam, lihatlah.!
Kau masih bersamanya, mencairkan mata
Bulir itu membawaku terpejam
Hanyut, larut dalam fatamorgana
Terbang dihembus mimpi
Kudengar mereka menamainya
Sebuah pertanyaan masih tertinggal
Apa arti menangis dan air mata.?

Remuk

Duduk berpeluk lutut, sepi
Kening tunduk menekuk
Siap bergulung-guling terkapar
Mata tak lagi sanggup beralih
Menghunus yang tak berdosa
Tertatih-tatih berpeluk anyir
Mendekap, merengkuh segala upaya
Agar tetap utuh, berserpih-serpih
Berdenyut, memaksa bertahan
Nyeri bernyanyi menghibur hancur
Sepi. Lagi
Cahaya redup membaur
Tersaruk di jalan hampa
Titik cahaya semu datang
Sempurna pada fatamorgana
Berkabut mata, mati
            Dua keremangan kembali
            Api kecil menuntun jiwa
            Pergi lari mengejar api
Kau di sana tersenyum
Memamerkan sosokmu yang menawan
Kau tarik dekapan lenganku
Kau tatap jiwa yang remuk
Kau peluk lebih erat
Napas tersengal, jiwa menjerit
          Kembalilah, aku tak layak
          Lengan ini akan hancur
          Seiring jiwa yang remuk
          Aku akan pergi mengejar api

Senin, 02 Mei 2011

Life.?

I think life is abstract
Life never get permit you to give up
Maybe your life is nothing for you
But for me, life for everyone is important
I life for other lives
Your life is yours, but I’ll protect it
I never give you a choice to choose
‘I am your life or not’
I am not living in your life
You will know then, not now
I won’t to live in your life forever
But you always pull me into it
‘Can you leave me alone?’
If I say that you will say,
‘Do you want me to let you go?’
Then, I will very disappointed with it
Do you know you are very important for me?
That why I won’t you know, life, and play with me
I love you, all of you
I’ll protect you, my energy have gone
You know, I will let you with no memorize of me
I will delete mine from your brain
And you will never know me or remember me
F O R E V E R

Sabtu, 16 April 2011

Kisah

Malam sudah tak lagi gelap
Dingin sudah tak mampu menemani
Sunyi sudah tak bisa mengiringi
Kelam sudah tak menghantarkan lelap
Hatimu sudah lebih gelap dari malam
Kebekuanmu menyelimuti sekujur mata
Mengapa kau tak lihat?
Sinarmu kian kelam dan tak berpijar
Kau buta…
Mereka menggenggam lembut tanganmu
Aku tidak buta…
Ku bisa melihat mereka
Hangat mereka tak menembus mata
Sayang…mata sudah beku benar
Aku takut kasih mereka tak berbalas
Cair sinar, membeku di mata
Hampiri gelap, sunyi, dan kelam
Aku bukanlah malam…sayang
Kau adalah sebuah cinta
Tak ada cinta dalam kamus
Biarkan aku pergi ke sana
Bersama beku mata di cair sinar
Aku mengerti, mereka bisa
Berdamai hati bersama mata beku

Maafkan, hatimu terlalu cair
Namun matamu sangat beku
Lihatkan bersama mereka, kau sulit
Tak mampu menemukan
Hatimu terlampau rumit

Jumat, 15 April 2011

Jiwa

Kemana aku harus membawa jiwa ini.?
Sepi kian terasa mencekat, aku terdesak
Bahagiaku tersisihkan,
bagai orang yang tak punya tujuan
Tak mampu ucapkan pedih,
Namun sanggup senyumkan tatapan
Hampa… bukan kenyataan
Sebuah siksaan jiwa dan roh
Teman setia tak bernyawa
Harapan menghilang dari impian
Apa itu teman sejati
Tak ada yang namanya cinta
Senyum dan tawa lukisan wajah
Mampu taklukan dunia
Walau kepalsuan mengiringi
Tak ada yang perduli
Kasih sayang bagai tak berguna
Tak mampu tepiskan sepi
Aku hanya butuh kucing kecil
Dipeluk dan hangat mengalir
Melumpuhkan rantai kekecewaan
Inginkan mata yang bersinar
Bagai api yang marah
Melalap kayu kering kebaikan
Tak ada yang tersisa sebuah kepercayaan
Tak pernah dianggap, tapi selalu yakin
Inikah kasih yang tak terbalas.?

Hidup dan Waktu

Hidup…bersama waktu
Tak pernah saling buang,
Bertatap selamanya
Hitung mereka payah
Kau tak sanggup satu
Tak pernah kau lihat
Waktu belakang hidup, pasangan sejarah
Pulang tak berakhir
Pengalaman tak akan tanpa guna
Lihat…kau hidup tanpanya
Kelabakan tak tahu
Terseok-seok memohon
Henti waktu cepat
Henti hidup lambat
Kau tertinggal mereka
Pulang tak guna, jalan terus perintah
Lihat keduanya…
Gandeng tangan bersama
Tak akan tinggalkan
Satu mereka tak suka
Kau sengsara