Kecantikannya
membuatku terpesona. Wajah damai menghipnotis jiwa kelabu yang terpuruk. Senyum
magis membunuh setiap kebencian yang terlintas. Sikap lembut mengikis pedang
penuh darah yang terhujam. Gadis istimewa dengan tinggi semampai. Rambut
cokelat yang lurus jatuh lembut hingga pinggang. Mata perak dengan hidung
mancung dan bibir mungil menghiasi wajah yang oval. Ku nikmati dan ku kagumi
sosok itu pada cermin di hadapanku.
Aku bukan
sedang menatap diriku sendiri di cermin. Aku sedang mengamati jiwa lain yang
tersemayamkan dalam tubuhku. Jiwa yang selama ini menyokong roh dan ragaku,
yang menjagaku tetap hidup. Tak pernah ku bayangkan bila diriku tak terpilih
olehnya. Mungkin saat itu aku tidak akan mampu bertahan. Atas semua
pertolongannya aku bisa menatap sosoknya jauh dalam cermin seperti ini.
Perang
besar yang memakan jutaan jiwa itu juga telah melukai jiwaku. Memang bukan
nyawa yang menjadi korban. Tapi manusia tanpa jiwa tak memiliki arti. Dan
perang itu memang bukan juga perang yang terjadi di dunia nyata. Melainkan
perang yang diikuti oleh para dewa dan iblis. Perang pemusnahan manusia oleh
para iblis. Perang yang tidak melibatkan manusia tetapi berimbas pada kehancuran
jiwa manusia. Namun aku yang memiliki kutukan, yang sering disebut dengan sixth
sense, malah terlibat langsung dalam pertempuran.
Aku dan
beberapa saudaraku terpilih menjadi manusia yang terwarisi oleh kemampuan
‘melihat’ dunia dalam berbagai dimensi ruang dan waktu. Kami memang tidak
memiliki kemampuan untuk mengutak-atik dimensi-dimensi itu. Namun, melihat
sesuatu yang tidak layak dilihat adalah sebuah siksaan. Apalagi bila kami tidak
bisa mengendalikannya, kemampuan itu akan merusak jiwa kami. Oleh karena itu,
saat kami telah teridentifikasi memliki kemampuan itu, kami dilatih untuk
mengendalikan penglihatan.
Aku tidak
mengerti, mengapa semua ketidakberuntungan jatuh pada keturunan seperti diriku.
Aku memegang rekor sebagai pewaris kutukan terlemah yang pernah ada. Mendapat
gelar seperti itu sesungguhnya aku sangat bahagia. Mengapa? Tentu saja dengan
begitu aku tidak perlu mengikuti pelatihan pengendalian. Karena sesungguhnya
latihan itu membutuhkan korban jiwa. Korban itu bisa saja jiwamu sendiri atau
orang lain yang memiliki ikatan tertentu dengan jiwamu.
Kemampuan
kami ini, kusebut sebagai kutukan bukan tanpa sebab. Aku memang bisa
menggunakannya, namun aku tahu resiko apa yang akan terjadi pada semua
keturunan bahkan pada nonpewaris sekali pun. Semua orang yang memiliki hubungan
darah dengan pewaris akan menjadi korban untuk mengendalikan kemampuan itu.
Dalam pelatihan, para pewaris akan diuji
ketahanan jiwanya dengan memilih korban pertama yang akan menjadi
pengendali.
Keturunan
nonpewaris tidak mampu menerima informasi dan penglihatan dari berbagai dimensi
dunia. Namun, seorang pewaris dapat menerima semua informasi tanpa mengenal
waktu sehingga jiwanya akan semakin melemah. Dengan adanya korban yang memiliki
hubungan darah, para pewaris bisa menutup penglihatannya menggunakan jiwa dari
korban tanpa terjadi penolakan jiwa oleh pewaris. Oleh karena itu, pelatihan
sejatinya bukan untuk mengendalikan melainkan untuk mendapatkan jiwa
pengendali.
Pada
akhirnya, melalui penolakan yang terus terlontar, aku berhasil mengundurkan
diri dari pelatihan. Namun ternyata aku terdeteksi sebagai pewaris utama wanita
yang memiliki kekuatan kedua terbesar sehingga aku dipaksa memilih seseorang
untuk menjadi pengendali kemampuanku. Sungguh aku tidak bisa memilih satu jiwa
pun yang akan menjadi korban. Dan aku sanggup mengatakan bahwa tak ada cukup
jiwa yang mampu mengendalikan kemampuanku, dengan bumbu dusta.
Terus dan
terus melarikan diri adalah kemampuan baruku sekarang. Meskipun begitu aku
tetap tidak bisa mengelak akan peranku dalam peperangan itu. Aku adalah penentu
berakhirnya pemusnahan itu. Sebagai pewaris utama wanita, ternyata aku hanya
bisa melihat dimensi waktu yang berbeda. Sedangkan pewaris utama pria, bisa
melihat dimensi ruang dan waktu yang berbeda secara bersamaan. Karena
penglihatan waktuku lebih kuat, aku diincar kedua belah pihak yang bertempur,
baik para dewa maupun para iblis. Mereka semua memiliki pertanyaan yang sama. Kapan
perang ini akan berakhir dan siapa pemenangnya.
Di tengah
incaran para dewa yang bertindak seperti iblis dan para iblis yang sudah tak
layak disebut sekedar iblis, aku ditemukan oleh sosok jiwa yang mempesona. Ia
memiliki rambut cokelat yang panjang dan lurus seperti milikku. Tatapannya
teduh dan sejuk bagai beringin di penghujung padang pasir. Mata peraknya dingin
dan sebening air hulu. Sosok jiwa itu memiliki tanduk dan ekor iblis, serta
sayap dan tiara dewa. Yang ku tahu sosok seperti itu adalah penyeimbang dunia,
sang Fortune. Dan ia telah memilihku sebagai pendamping jiwanya. Ia telah
menghidupkan kembali jiwaku yang terkoyak. Memberikan akhir bahagia pada ujung
peperangan yang tak dapat terlihat.
Dear, My Soul
Tidak ada komentar:
Posting Komentar