Label

Sabtu, 30 Juni 2012

Last Knight


Rumah ini terasa sangat berbeda. Kini seolah lebih hangat. Ruangannya seakan lebih luas dan terang. Padahal kutahu bahwa rumah ini hanya terdiri dari dua kamar, satu dapur, dan satu kamar mandi, tanpa ruang tamu. Saat ini, aku tinggal di rumah seorang gadis yang menolongku tiga hari yang lalu. Rupanya gadis itulah yang membeli rumah ini, rumah Pamanku. Pamanku menjual rumah ini, yang kutahu, karena ingin mencari tempat tinggal di kota lain.
Gadis yang menolong Pamanku dulu, rupanya sekarang tengah menolongku juga. Mungkin gadis ini adalah dewi penyelamat keluargaku. Gadis cantik itu bernama Ruifa Xiencha dan orang-orang memanggilnya Rui. Namanya aneh, kupikir ia adalah keturunan Cina, ternyata bukan. Nama keluarganya adalah gabungan dari nama dua orang pengasuhnya yaitu Xien, orang Cina, dan Charlie, orang Inggris. Rui mengalami amnesia, namun masih bisa mengingat namanya sendiri, Ruifa. Menurutnya, bisa mengingat namanya saja sudah merupakan anugerah.
Entah bagaimana Rui bisa menembus pertahanan rumahku yang kuat. Memang, pada saat itu rumahku sedang diterobos oleh seorang penjahat. Namun, di tengah kekacauan seperti itu tidak mungkin seorang gadis seperti Rui sanggup melewati  dan melumpuhkan seluruh prajurit ayah untuk menolongku. Walaupun sang penjahat juga mampu membantai pengawal ayah sendirian. Setelah kutanya kemarin, barulah aku tahu kalau ia adalah mantan pengawal. Kata Rui, ia pernah menjadi calon ksatria meski akhirnya tidak pernah menjadi ksatria sungguhan karena Xien dan Charlie tidak mengizinkannya.
Rui adalah gadis yang manis dan cantik. Kira-kira berumur di awal dua puluhan, mungkin dua atau tiga tahun lebih muda dariku. Rambutnya panjang sepinggang berwarna cokelat karamel. Rambut yang lurus itu selalu diikat ekor kuda, rapi dan tertata. Rui memiliki iris berwarna hijau serupa lumut. Tampak dalam dan tajam. Setiap kali keluar rumah, di pinggang kirinya selalu terselip sebilah pedang dan sebilah samurai. Selama tiga hari ini kuperhatikan, Rui tidak pernah memakai gaun bahkan sekedar rok sekalipun. Penampilannya selalu seperti laki-laki. Pantas saja, dengan mudah ia meminjamiku pakaian.
Berada di rumah ini terasa seperti nostalgia bagiku. Rumah yang selalu sembunyi-sembunyi kudatangi untuk berlatih pedang bersama paman. Dulu aku berlatih sungguh-sungguh bukan untuk berkelahi namun agar aku bisa melindungi keluargaku. Namun ternyata, aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa ketika keluargaku dibantai hanya oleh seorang penjahat. Pengawal yang sempat melindungiku memintaku untuk berhati-hati pada orang yang memiliki bekas luka di bahu kirinya. Orang itulah yang sedang membantai keluargaku saat itu. Namun, meski aku tahu ciri-cirinya aku tidak memiliki kemampuan untuk menghabisinya. Ah…aku merasa aman berada di dalam rumah ini.
“Tuan Evonclaft? Sedang apa Anda duduk di sana? Apakah Anda lapar?” suara merdu Rui membuyarkan lamunanku.
“Panggil saja Gren atau Ito, atau terserah saja. Asal jangan panggil aku dengan nama keluargaku,” ucapku kesal. Aku tidak pernah suka dipanggil begitu.
“Baiklah, Tuan Grenito. Aku akan membuatkan makanan, tapi aku ingin mandi dulu. Bisakah Anda masuk ke dalam kamar sebentar?” suara Rui yang lembut memerintahku samar.
“Tentu. Kau tidak perlu buru-buru, Nona Rui. Aku tidak terlalu lapar,” jawabku sambil memasuki kamar.
Dengan sabar aku menunggu Rui. Lima belas menit telah berlalu, kupikir Rui sudah mulai memasak karena kudengar suara sendok beradu. Aku ingin membantu, aku merasa tidak enak dilayani olehnya. Walaupun katanya rakyat biasa harus melayani keluarga bangsawan, aku tetap merasa harus membantunya. Tidak peduli dengan penolakannya nanti, aku membuka pintu dan melangkah keluar menuju dapur.
“Ah!” seru Rui terkejut. Ternyata ia baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk saja.
“Ergh…maaf, aku tidak bermaksud…” kata-kataku terhenti setelah melihat bekas luka di bahu kirinya.
“Anda tidak seharusnya melihatku seperti ini,” suara Rui terdengar tajam. Ia bergegas menuju kamarnya.
“Tunggu! Luka itu…” aku menghentikan langkah Rui.
“Biarkan aku berpakaian dulu. Aku akan menjelaskannya,” ucapannya sangat tegas dan mengerikan ketika Rui melepaskan genggaman tanganku.
Lama sekali waktu berjalan bagiku. Menunggu Rui mengenakan pakaian saja membuat keringatku mengalir deras, tegang menanti penjelasannya. Beberapa menit kemudian, Rui keluar dengan memakai celana hitam selutut dan kaus tanpa lengan sehingga luka-luka di tubuhnya terlihat, terutama bekas luka di bahunya. Ia berjalan melewatiku lalu membuat dua cangkir teh hijau. Setelah itu, Rui meletakkan satu cangkir di depanku, kemudian ia mengambil tempat untuk duduk berhadapan denganku.
“Apa yang ingin kau ketahui dariku, Gren?” tanya Rui tak lagi formal.
“Katakan kalau kau bukan pembantai keluargaku,” ujarku pelan namun garang.
“Sayang sekali, aku tidak bisa mengatakan itu,” senyumnya kecut padaku, ”kau pernah dengar mengenai Sordanite?” lanjutnya.
“Sordanite?” tanyaku bingung.
“Sordanite adalah nama keluargaku. Sebuah keluarga bangsawan ksatria yang tinggal di utara pulau ini. Aku adalah putri terakhir keluarga Sordanite,” jawab Rui santai.
“Eh? Bukannya kau amnesia?” aku semakin bingung. Aku ingat pernah mendengar nama itu.
“Amnesia? Itu hanyalah tipuan agar aku bisa masuk ke kota ini,” Rui tertawa kecil, ”Boleh aku bercerita padamu?” tanya Rui agak memaksa. Aku hanya mengangguk saja.
“Aku lahir sebagai anak terakhir di keluarga Sordanite. Semua kakakku adalah laki-laki, dua orang laki-laki. Karena aku perempuan, ibu mengajariku memasak, menjahit, berdandan, merangkai bunga, dan juga berdansa. Namun, ayah tidak melihat perbedaan antara aku dan kakak. Bagi beliau, kami semua adalah ksatria muda yang perlu diasah kemampuannya. Akhirnya, aku menjadi satu-satunya ksatria yang bisa berdandan,” Rui terkekeh mendengar ceritanya sendiri.
“Ksatria Sordanite?” aku teringat sesuatu mengenai perselisihan keluargaku dengan para ksatria.
“Tak hanya berlatih pedang, aku juga belajar menggunakan samurai,” Rui melanjutkan ceritanya seolah tidak melihat rautku yang terkejut.
“Aku sangat senang menjadi ksatria. Aku bangga menyandang gelar sebagai salah satu ksatria Sordanite,” sambung Rui setelah menghirup tehnya. Aku tidak berani menyela ceritanya.
“Namun, ketika kami sedang berpesta untuk merayakan pertunangan kakak tertuaku, tiba-tiba terjadi sebuah skema penyerangan. Kebahagiaan yang kurasa saat itu, sekejap berubah menjadi dendam yang dalam. Keluargaku lenyap dibantai oleh prajurit-prajurit pribadi keluarga Evonclaft,” Rui mengakhiri ceritanya dengan memandangku hangat, namun membuatku gemetar.
“Ke-keluargaku?” aku merasa sangat ketakutan duduk di hadapan seorang pembunuh.
“Ya. Dan kau tahu siapa yang telah memberikan luka ini padaku?” tanya Rui lembut sambil memandang bekas luka pada bahunya.
“Ti-ti-tidak,” jawabku terbata-bata.
“Tuan Grenado menebas bahu kiriku tiga tahun yang lalu. Dan kini meninggalkan bekas luka sepanjang tiga puluh senti hingga ke dada,” jelas Rui.
“Adikku? Adikku yang menebasmu? Tidak mungkin,” pikiranku kacau.
“Kau tidak sadar bahwa adikmu juga seorang pembunuh, sama sepertiku. Kau tidak takut padanya, tetapi kau malah takut pada gadis di hadapanmu,” Rui mencibirku.
“Lalu…mengapa kau tidak membunuhku juga?” tanyaku gugup.
“Karena kau sama sekali tidak mengetahui tragedi itu,” jawab Rui cepat.
“Bagaimana kau tahu?” aku memang benar-benar baru mendengar hal itu.
“Kau itu mirip dengan Pamanmu. Pandai bermain pedang tetapi tidak suka kekerasan. Saat tragedi itu terjadi, kau bahkan sedang belajar ke luar negeri bersama Pamanmu. Sebenarnya, aku bukan tidak berniat membunuhmu juga,” Rui menggantung keterangannya.
“Lalu?” aku meminta penjelasan lebih lanjut.
“Besok adalah hari ulang tahun kita. Ya, kita lahir di tanggal yang sama. Rencananya, besok aku akan berhenti menjadi seorang ksatria. Jika hari ini kau tidak menangkap basah ksatria terakhir ini, mungkin aku akan sukses membunuhmu. Membunuh karaktermu yang baik hati dan mengubahmu menjadi pendendam yang kejam,” jelasnya tegas.
“Berhenti menjadi seorang ksatria? Kau akan bunuh diri?” aku marah dan menggebrak meja,
“Kau marah karena aku bunuh diri?” Rui tertawa, “tentu saja aku harus mati setelah gagal membalas dendam,” jawabnya tajam.
“Tidak! Itu tidak perlu,” rasanya aku ingin menangis.
“Kau terlalu lemah! Maafkan aku, aku telah membantai seluruh keluargamu,” ujar Rui lirih.
“Kau bahkan terlalu baik sebagai ksatria pembantai. Maafkan keluargaku yang telah menghancurkan kebahagiaanmu,” aku berjalan menghampiri dan memeluknya.
“Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini,” Rui terisak mengucapkannya, “Aku layak kau habisi,” lanjutnya dalam tangis.
“Jika itu memang keinginanmu. Baiklah. Aku akan menghabisimu di sini,” tegasku. Rui seketika mendongak menatapku, aku tersenyum membalas tatapannya.
“Hari ini aku telah membunuh Ruifa Sordanite. Dan yang sekarang berdiri di hadapanku adalah Ruifa Xiencha, seorang ksatria terakhir yang baik hati,” ucapku keras-keras. Kemudian kami tertawa bersama dalam air mata haru. Sejenak kudengar Rui berkata lirih.
“Terima kasih. Aku akan menjadi ksatria terakhir yang selalu melindungimu.”
Setelah itu, kulihat senyum Rui yang manis. Senyum tulusnya yang tidak akan pernah kulupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar